Minggu, Mei 19, 2024
Google search engine
BerandaVIEWSKolomPENAMPAKAN TUHAN YANG BANGKIT

PENAMPAKAN TUHAN YANG BANGKIT

Penulis: Brian Purfield

Brian Purfield memeriksa kisah Injil-injil tentang penampakan Yesus yang bangkit. Apa yang Injil-injil ceritakan kepada kita tentang pengalaman para murid tentang Kebangkitan? Apa yang Injil-injil katakan kepada kita tentang komunitas Kristen awal yang kepada mereka Injil-Injil itu ditulis? Apa yang mereka katakan tentang Yesus yang bangkit?
Kebangkitan Kristus adalah pusat iman kita sebagai orang Kristen. Paulus menyatakan: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka pemberitaan kami sia-sia, dan iman kamu sia-sia” (1 Korintus 15:14). Dari hari Minggu Paskah hingga hari Minggu sesudahnya, bacaan-bacaan dalam kebaktian menyajikan kisah penampakan Tuhan yang telah bangkit. Artikel ini membahas kisah-kisah ini, dengan harapan bahwa kita dapat merasakan sesuatu dari pengalaman kebangkitan yang dimiliki oleh para pengikut Kristus mula-mula yang beragama Kristen.

Tradisi Sebelumnya: Rasul Paulus

Paulus menawarkan salah satu formulasi paling awal dengan mengatakan bahwa dia sendiri menerimanya (mungkin di Damaskus ketika waktu pertobatannya, tiga tahun setelah kematian Yesus). Ini terdapat dalam 1 Korintus 15: 3-8. Paulus menyebutkan empat unsur penting: Yesus mati, Dia dikuburkan, Dia dibangkitkan, dan Dia menampakkan diri kepada Kefas. Kenyataan bahwa Yesus menampakkan diri kepada Simon Petrus tidak dapat dipisahkan dari klaim bahwa Yesus dibangkitkan. Ini adalah dasar proklamasi Gereja mula-mula yang juga dinyatakan dalam Lukas 24:34. Apakah Petrus (Kefas) secara kronologis adalah yang pertama kali melihat penampakan Yesus atau bukan, dia pada akhirnya diberikan keunggulan tempat simbolis sebagai “batu karang” atau fondasi iman Kristen. Paulus kemudian membuat daftar penampakan kepada orang lain: kepada Dua Belas murid, kepada lebih dari 500 orang, kepada Yakobus dan semua rasul. Dia kemudian mengatakan bahwa Yesus menampakkan Diri “yang terakhir kepada aku” (15: 8). Tetapi dia menegaskan bahwa pengalaman itu pada dasarnya sama, karena hanya ada satu Injil, karena hanya ada satu wahyu.

Paulus adalah satu-satunya yang memberi kita kisah langsung tentang pengalaman seperti itu (Galatia 1: 6-24). Dia tidak menggambarkan pengalaman secara fisik. Itu mungkin melibatkan beberapa bentuk melihat atau mendengar, tetapi Paulus menekankan kegiatan Allah. Allahlah yang “berkenan menyatakan Anak-Nya kepadaku” (Galatia 1:16). Dia menegaskan bahwa Injil yang diberitakannya tidak datang kepadanya melalui mediasi manusia bagaimana pun tetapi semata-mata “melalui wahyu Yesus Kristus” (1: 11-12). Wahyu inilah yang memberinya misi “supaya aku dapat memberitakannya di antara bangsa-bangsa lain” (1:16).
Sepanjang kariernya Paulus bersikukuh bahwa dia juga adalah seorang rasul karena dia juga telah melihat Yesus (1 Korintus 9: 1). Satu wahyu yang unik telah menghasilkan satu Injil yang sama untuk semua rasul (Galatia 1: 6-9; 2: 1-10; 1 Korintus 15: 1-2, 11). Dengan demikian, “penampakan” berarti pada tingkat yang paling awal dan paling dasar merupakan wahyu dari Allah akan kehadiran dan makna Yesus. Wahyu ilahi ini menuntut tanggapan iman yang mencakup pengutusan misi untuk memberitakan kabar baik ini. Ini adalah landasan kerasulan (misi) Gereja.

Tulisan-tulisan Paulus memberikan klaim dasar dari Gereja awal bahwa Yesus dibangkitkan dan menampakkan Diri kepada semua rasul dari Petrus sampai ke Paulus sendiri. Tampaknya ada sedikit keraguan bahwa ada sejumlah tradisi penampakan; namun itu di masa lalu. Di mana dan kapan itu terjadi? Apa yang terjadi pada penampakan-penampakan? Kapan penampakan-penampakan itu berhenti? Dia tidak mengatakannya. Ini membawa kita pada perkembangan tradisi selanjutnya, dan terutama pada kisah-kisah penampakan. Kisah-kisah Injil mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini tetapi jawabannya berbeda dari satu Injil ke Injil lainnya.

Perkembangan Selanjutnya: Injil-Injil

Di sini kita menemukan kejeniusan pastoral dari para penginjil. Masing-masing menulis untuk audiens yang berbeda, dan dalam menetapkan pelayanan publik Yesus masing-masing menekankan aspek-aspek yang berbicara dengan kebutuhan dan keadaan audiens tertentu. Konsekuensinya masing-masing mengambil sesuatu dari tradisi penampakan Yesus yang bangkit yang berhubungan erat dengan apa yang telah ditulis dalam kerangka Injilnya. Dengan demikian para pembaca (pendengar) Injil dapat melihat bagaimana Kebangkitan cocok secara konsisten ke seluruh penggambaran Yesus. Marilah kita melihat secara singkat masing-masing Injil dengan kemungkinan urutan waktu penulisannya.

Injil Markus

Paulus tahu bahwa Yesus dikuburkan, namun dia tidak pernah menyebutkan kuburan yang kosong. Ini pertama kali muncul dalam Markus 16: 1-8. Karena sifat yang singkat dan hampir belum terselesaikan dari kisah itu, orang-orang Kristen awal menambahkan akhir yang lain. Yang paling dikenal adalah 16: 9-20. Jadi kita berbicara tentang dua kisah “Markus” tentang Kebangkitan.
Markus 16: 1-8 pada dasarnya adalah kisah kuburan yang kosong. Seorang “pemuda” (sosok seperti malaikat) mengumumkan kepada para perempuan proklamasi dasar: “Ia telah dibangkitkan” (ayat 6). Ada janji penampakan-Nya di Galilea kepada murid-murid lain dan Petrus, tetapi itu tidak pernah diuraikan dan kisahnya berakhir dengan para perempuan meninggalkan kubur dengan ketakutan dan diam.

Sepanjang Injil, Markus menekankan betapa sulitnya bagi para pengikut Yesus untuk percaya sepenuhnya kepada-Nya karena mereka tidak mengerti bahwa penderitaan dan penolakan adalah bagian penting dari identitas Anak Allah. Hanya melalui penderitaanlah para murid akan mencapai pemahaman yang lebih lengkap. Pada saat-saat sengsara Yesus, para murid laki-laki semuanya gagal dan melarikan diri – sebuah pengalaman yang mencerminkan rasa takut dan kelemahan yang memalukan. Tetapi rasa sakit mereka mengarahkan pada pencerahan. Setelah mereka menderita dan gagal, Yesus akan menampakkan Diri kepada mereka di Galilea (Markus 14: 27-28).

Para perempuan pengikut Yesus, yang selamat dari pencobaan di Getsemani –di mana para murid tertidur dan melarikan diri– memandang dari jauh pada saat Penyaliban. Mereka juga harus mengalami kesulitan iman; bahkan setelah mereka diberitahu tentang kebangkitan, mereka tidak secara otomatis memaklumkan kemenangan Yesus. Sebaliknya mereka melarikan diri dengan membisu dan ketakutan (Markus 16: 8).

Peringatan yang bermanfaat bagi orang Kristen masa kini? Iman kita datang kepada kita dari orang lain yang telah menyampaikan wahyu tentang apa yang telah dilakukan Allah, tetapi kenyataan bahwa kita telah menerima proklamasi itu tidak berarti kita telah memiliki iman Kristen sepenuhnya. Bahkan setelah Kebangkitan, kita mungkin harus memikul salib dan mengalami penderitaan dan penolakan sebelum kita mencapai pemahaman yang benar tentang Yesus yang kita percayai.

Tentu saja Markus tidak bermaksud menyampaikan bahwa para perempuan itu seterusnya diam dan takut saja. Bagian akhir yang ditambahkan (Markus 16: 9-20) mengakui dengan menunjukkan bahwa tidak hanya bagi para perempuan tetapi juga bagi orang lain, suatu pertemuan dengan Yesus yang bangkit melahirkan iman. Dalam setiap kasus, pertemuan pribadi itu menghasilkan apa yang tidak bisa terjadi oleh pemberitaan orang lain. Iman berasal dari pemahaman pribadi tentang Tuhan yang telah bangkit.
Kita juga mendengar bagaimana orang-orang yang Yesus tegur karena kurang iman dan keras hati justru diutus untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Pesan-pesan ini juga relevan bagi kita. Dahulu, maupun sekarang, mendengar tentang Yesus tidak pernah menggantikan pengalaman pribadi tentang Dia, dan tugas untuk membawa orang lain kepada Kristus tidak dipercayakan hanya kepada orang-orang suci yang sempurna. Injil Markus mengingatkan kita bahwa murid-murid pertama Yesus adalah manusia yang bergumul sama seperti kita.

Injil Matius

Sambil meniru Markus, Matius berusaha menjadi guru yang lebih terampil, lebih ramah kepada pembaca yang tidak selalu dapat melihat implikasinya. Markus 16: 1-8 tidak menggambarkan penampakan Yesus yang bangkit, demikian juga Matius. Dalam 28: 9 ia menceritakan tentang penampakan kepada para perempuan setelah mereka meninggalkan makam. Penampakan itu digemakan dalam Yohanes dan Markus 16: 9, yang mungkin mewakili tradisi kuno meskipun itu tidak pernah menjadi bagian dari pemberitaan resmi (misalnya dalam 1 Korintus 15).
Matius bahkan lebih dramatis, dalam 27: 62-66; 28: 4, 11-15 dia memberi tahu kita tentang rencana untuk menggagalkan Kebangkitan. Ada yang minta tentara Pilatus untuk menjaga makam Yesus. Salah satu aspek tragis dalam pengalaman Matius yang tercermin dalam Injilnya, adalah permusuhan antara otoritas sinagoge dan orang-orang Kristen. Pada awalnya, Matius menggambarkan Herodes, para imam kepala dan ahli Taurat yang berencana untuk membinasakan Mesias yang baru lahir (2: 3-5, 16-18, 20); tetapi Tuhan menggagalkan rencana mereka. Di akhir Injil, ia menggambarkan gubernur Pilatus, imam kepala dan orang-orang Farisi yang merencanakan melawan Yesus. Sekali lagi Tuhan campur tangan untuk menggagalkan rencana mereka. Meskipun sikap polemik di balik kisah Matius ini tidak dapat ditiru, Matius mengingatkan kita bahwa memberitakan Injil tidak akan tanpa pergumulan.

Akhirnya, Matius menggambarkan apa yang hanya dijanjikan Markus: penampakan Yesus kepada para murid (Sebelas Murid) di Galilea. Dalam pembukaan pelayanan publik di Galilea oleh Matius (pasal 5-7), Yesus menyampaikan sebuah “khotbah” di bukit yang memberikan intisari dari ajaran baru-Nya tentang Kerajaan Allah. Dalam 10: 6-7 Yesus mengirim murid-muridnya untuk memberitakan kerajaan itu “kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Kemudian dari Galilea Yesus yang bangkit mengirim murid-muridnya untuk mengajar “semua bangsa”, menjadikan mereka murid dengan membaptis mereka.
Komunitas Matius melihat pergeseran ini dari orang Yahudi ke orang bukan Yahudi dalam fokus pelayanan. Namun Matius dengan hati-hati menunjukkan bahwa rencana Allah bagi Yesus konsisten dari awal hingga akhir. Sebelum kelahiran-Nya, Yesus diproklamasikan sebagai Imanuel (“Allah beserta kita” – 1: 23); kata-kata terakhir-Nya adalah “Aku bersamamu sepanjang hari sampai akhir zaman” (28: 20).

Injil Lukas

Demikian pula Lukas mengikuti Markus dalam kisah dasar kubur yang kosong, tetapi menyusuri dengan caranya sendiri dalam penampakan yang dilaporkannya. Sementara Matius melaporkan penampakan Yesus di Yerusalem kepada dua perempuan, Lukas menceritakan panjang lebar (24: 13-35) penampakan Yesus kepada dua murid laki-laki di jalan dari Yerusalem ke Emaus. Dalam Kisah Para Rasul (2: 42, 46; 20: 7, 11), yang ditulis oleh Lukas sebagai sambungan dari Injilnya, ia akan menunjuk pada peran “memecahkan roti” dalam kehidupan komunitas Kristen. Dia mempersiapkan hal itu dalam kisah Emaus ketika para murid mengenali Yesus dalam pemecahan roti. Ini sama pentingnya bagi orang percaya dewasa ini karena pemecahan roti Ekaristik merupakan kehadiran Yesus yang bangkit – suatu kehadiran unik yang berbeda dari yang lainnya.
Kemudian Lukas beralih ke penampakan Yesus yang bangkit kepada Sebelas Murid. Lebih dari Markus atau Matius, Lukas menekankan apa yang sudah tersirat dalam kubur yang kosong: realitas tubuh Yesus yang bangkit yang bukan sekadar roh (23: 37-43). Yang sangat penting adalah bahwa Yesus yang bangkit mengajar Sebelas Murid tentang kematian dan kebangkitan-Nya dengan menjelaskan Kitab Suci, “Semua hal yang ditulis tentang Aku dalam Hukum Musa, dan dalam kitab Para Nabi, dan dalam Mazmur harus digenapi” (24: 44 ). Bagi Lukas, Kebangkitan menggenapi Kitab Suci.
Kedua murid di jalan menuju Emaus menemukan hati mereka membara ketika Dia membuka Kitab Suci bagi mereka. Sekali lagi penekanan Lukas adalah mempersiapkan jalan bagi kehidupan Gereja yang akan ia gambarkan dalam Kisah Para Rasul, di mana Petrus, Stefanus dan Paulus memulai khotbah mereka dengan menekankan bahwa Kitab Suci sudah mengantisipasi apa yang terjadi pada Yesus (Kisah Para Rasul 2: 14-21; 7: 1-50; 13: 16-22).

Dalam Matius, Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada Sebelas Murid di Galilea. Wilayah ini merupakan pilihan tepat dari tradisi untuk tujuan Matius. Bagi Matius, Galilea adalah tanah orang bukan Yahudi (4: 15) dan setelah kebangkitan-Nya Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi dan memuridkan orang-orang bukan Yahudi (28: 19). Lukas, bagaimanapun, menyoroti Yerusalem sebagai latar bagi penampilan dan kenaikan Yesus. Ini adalah pilihan tepat dari tradisi untuk tujuannya. Injil Lukas dimulai dengan kemunculan Gabriel ke Zakaria di Bait Suci Yerusalem; itu berakhir dengan murid-murid Yesus yang memuji Allah di Bait Allah.
Pada awal Kisah Para Rasul (1: 3, 9-12) Yesus naik ke surga dari Bukit Zaitun, empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya. Namun di akhir Injil (24: 50-51) Lukas telah mengangkat Dia ke surga dari wilayah yang sama pada Minggu Paskah malam. Dalam hal ini kita melihat persepsi teologis Lukas. Di satu sisi (secara dramatis digambarkan dalam Injil) kembalinya Yesus kepada Allah adalah akhir dari karier duniawi-Nya, karier yang dimulai dan berakhir di Yerusalem dan dengan demikian secara simbolis hidup dalam batas-batas Yudaisme. Dalam arti lain (secara dramatis digambarkan dalam Kisah Para Rasul) kembalinya Yesus kepada Allah memulai kehidupan Gereja yang dimulai di Yerusalem (Yudaisme) dan berkembang ke Roma (dunia bukan Yahudi).

Injil Yohanes

Yohanes 20, seperti Lukas dan Markus 16: 9-20, mengenai penampakan Yesus terjadi di Yerusalem. Yohanes 21 (hanya terkait secara dangkal dengan Yohanes 20), seperti Matius dan Markus 16: 7, membuat penampakan Yesus yang terjadi di Galilea. Setiap fasal, dengan cara yang berbeda, sesuai dengan pemikiran Yohanes. Injil Yohanes memberi kita sejumlah pertemuan di mana setiap karakter datang untuk bertemu Yesus dan bereaksi kepada-Nya. Ini berlanjut dalam Yohanes 20 di mana satu demi satu, Petrus dan Murid terkasih, Maria Magdalena, para murid dan Tomas bertemu Yesus yang bangkit.

Murid yang terkasih adalah yang pertama percaya. Dalam tradisi (1 Korintus 15: 5; Lukas 24:34), Simon Petrus adalah yang pertama dari murid laki-laki Yesus yang melihat Yesus yang bangkit. Yohanes tidak menyangkal hal itu tetapi menawarkan pandangannya sendiri: di paruh kedua Injil, Murid Terkasih yang tidak disebutkan namanya, yang sangat dikasihi oleh Yesus, lebih dekat dengan Yesus daripada Petrus. Dalam 20: 3-10 Petrus dan Murid Terkasih pergi ke kuburan. Tidak ada yang melihat Yesus, tetapi Murid Terkasih beriman tanpa penampakan Yesus yang bangkit.

Seperti dalam Matius dan tambahan akhir Markus, Maria Magdalena adalah pengikut pertama yang melihat Yesus yang bangkit. Dia tidak mengenali-Nya dengan melihat tetapi ketika Yesus menyebut namanya –memenuhi anggapan Gembala yang Baik (10: 3-5) bahwa Dia akan memanggil nama domba-domba yang menjadi milik-Nya dan mereka akan mengikuti-Nya. Yesus berbicara kepadanya tentang “Bapa-Ku dan Bapamu” dan menyebut murid-murid-Nya sebagai “saudara-saudara.” Demikianlah bagi Maria Magdalena, Yesus menggenapi janji dalam Prolog Yohanes (1: 12): “Semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.” Maka Maria Magdalena pergi dan memproklamasikan, “Aku telah melihat Tuhan.” Jika Murid Terkasih adalah yang pertama percaya, maka Maria Magdalena adalah yang pertama memberitakan Tuhan tentang yang bangkit.
Kemudian Yesus menampakkan diri kepada kelompok murid (20: 19-23), anggota-anggota dari Dua Belas murid. Seperti dalam Kejadian 2: 7, Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dengan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, maka Yesus menghembuskan nafas kepada para murid dan mereka menerima Roh Kudus, menciptakan kembali mereka sebagai anak-anak Allah dengan kehidupan kekal. Ini adalah kelahiran dari Roh yang dijanjikan dalam Yohanes 3: 5. Sepanjang Injil Yesus menyebut Diri-Nya sebagai yang diutus oleh Allah; para murid sekarang diutus untuk melanjutkan pekerjaan-Nya di dunia dengan kuasa-Nya atas kejahatan dan dosa.
Injil-injil menyebutkan keraguan ketika Yesus menampakkan Diri kepada para pengikut-Nya setelah Kebangkitan (Matius 28:17; Lukas 24: 37-38; Markus 16:14). Yohanes mendramatisasi keraguan itu dalam diri seseorang (20: 24-29). Secara paradoks, pengakuan iman tertinggi dalam Injil datang dari mulut ‘Thomas si Peragu’: “Tuhanku dan Allahku.” Injil dimulai dengan penegasan Prolog (1: 1), “Firman itu adalah Allah.” Manusia sekarang telah menyadari hal itu.

Yohanes 21 memindahkan lokasi ke Galilea dan menyoroti dua adegan yang berhubungan dengan Simon Petrus. Tangkapan ikan ajaib yang ditunjukkan oleh Yesus yang bangkit diseret ke darat oleh Petrus, simbol peran misionaris yang akan dia jalani. Tetapi simbolisme itu tiba-tiba bergeser ketika Petrus ditugaskan untuk menggembalakan domba-domba Yesus. Pergeseran ini mencerminkan pengalaman: dorongan penginjilan yang kuat pada generasi pertama pada akhirnya memberi jalan kepada pemeliharaan pastoral bagi mereka yang dibawa kepada Kristus. Penekanan Yohanes pada Yesus sebagai “Gembala yang Baik”, yang unik memperlambat penerimaan para gembala manusia di komunitas Yohanes; tetapi ketika melalui simbolisme Petrus peran gembala disahkan, syarat pokok komunitas Yohanis terlampir. Petrus harus sungguh mengasihi Yesus dan domba-domba tidak menjadi miliknya – melainkan tetap milik Yesus.

Namun kata terakhir Yesus bukanlah tentang Petrus tetapi Murid Terkasih. Dia tidak diberi peran otoritas, tetapi dia mempertahankan keunggulan dalam hal yang dikasihi Yesus, yang lebih ditekankan dalam Injil ini. Kepada Murid Terkasih ini terbuka kemungkinan untuk tetap ada di sana sampai Yesus kembali. Secara simbolis itu adalah buah terakhir dari Kebangkitan: sebuah komunitas murid-murid Kristen yang percaya yang bertahan sampai akhir zaman.

Apa yang dikatakan kisah Injil kepada kita?
Mungkin tampak bahwa wawasan yang lebih dalam dari kisah-kisah Injil mengenai kisah Paulus adalah untuk memberi kita gambaran tentang ketubuhan Yesus (bodilyness of Jesus). Lukas menggambarkan Yesus berjalan dan berbicara dengan para murid di jalan menuju Emaus (24: 13-27). Baik Lukas maupun Yohanes, dengan cara yang berbeda, menggambarkan Tuhan yang bangkit menyatakan Diri kepada murid-murid-Nya dalam konteks makan bersama (Lukas 24: 29-31, 41-43; Yohanes 21: 10-14). Keduanya mencatat peristiwa di mana Yesus memperlihatkan tangan dan kaki-Nya, menunjukkan tempat paku, bukti penyaliban-Nya (Lukas 24: 39 dst; Yohanes 20: 20, 25-27). Keempat Injil mencatat Kristus yang bangkit memberikan instruksi eksplisit kepada murid-murid-Nya sebelum kenaikan-Nya.
Sangat mudah untuk menyimpulkan bahwa Injil-injil berusaha memberikan gambaran tentang bagaimana rupa Kristus yang bangkit. Tetapi simpulan itu tidak menangkap cara halus para penginjil menyampaikan bahwa penampakan Tuhan yang bangkit melampaui kekuatan imajinasi. Jadi masing-masing penginjil dengan sengaja menggambarkan Kristus yang bangkit secara membingungkan, berbeda dan tidak dikenal. Maria Magdalena berpikir Yesus adalah tukang kebun; dia tidak mengenal Yesus (Yohanes 20:15). Petrus dan beberapa murid lainnya, setelah pergi menangkap ikan, melihat Yesus di pantai tetapi tidak menyadari siapa Dia (Yohanes 21: 4). Para murid yang bepergian ke Emaus berbicara dengan Yesus di sepanjang jalan tanpa mengetahui siapa Dia, dan baru mengenalinya kemudian dalam “pemecahan roti” (Lukas 24: 16, 30dyb). Pada kesempatan lain, para murid melihat Yesus tetapi berpikir mereka melihat hantu (Lukas 24: 37). Setiap kisah, dengan caranya sendiri, menegaskan apa yang dikatakan Markus dengan cara yang lebih umum, namun lebih tepat. Yesus menampakkan Diri “dalam bentuk lain” kepada dua murid, yang “berjalan di sepanjang jalan ke pedesaan” (Markus 16:12). Betapa pun nyata dan berwujudnya bentuk ketubuhan Yesus, para penginjil menyaksikan kenyataan bahwa Dia sangat berbeda; Yesus tidak dapat segera dikenali.

Aspek lain dari penampilan tubuh Yesus yang agak membingungkan adalah kemampuan-Nya untuk datang dan pergi sesuka hati. Dia muncul di lantai ruangan atas “meskipun pintu-pintunya dikunci” (Yohanes 20:19). Dalam memecahkan roti, ia lenyap begitu saja dari pandangan para murid ketika mereka mulai mengenali Dia (Lukas 24: 30 dst). Dia nampaknya muncul entah dari mana sementara Sebelas Murid berada di meja, hanya untuk menegur mereka karena ketidakpercayaan dan kekerasan hati mereka (Markus 16:14). Dalam Injil-injil sinoptik, Yesus meninggalkan para murid (saat Kenaikan) secara misterius seperti ketika Dia pertama kali muncul. Jelas setiap penulis mencoba untuk menegaskan bahwa tubuh Yesus memiliki sifat yang sangat berbeda dengan kita. Kualitas-kualitas ini membuat Yesus tidak dapat dikenali pada saat-saat pertama penampakan-Nya dan memberi Dia kebebasan untuk bergerak dengan mudah, masuk dan keluar dari ruang dan waktu tanpa batasan.

Disapa oleh Yesus

Setiap penginjil menegaskan bahwa para murid memang mengenali Tuhan yang bangkit dalam penampakan-penampakan ini tetapi hanya ketika Yesus memanggil mereka dengan sesuatu cara. Yohanes mengedepankan Maria Magdalena yang bingung untuk mengenali Yesus tepat ketika Yesus menyebut namanya (Yohanes 20: 15-18). Dia menggambarkan Thomas bergerak dari keraguan ke iman ketika Yesus berbicara kepadanya, mengundang Thomas untuk mengenalinya sebagai orang yang disalibkan dengan mengamati tempat-tempat paku (di tangan dan kaki-Nya) dan luka di sisi lambung-Nya (Yohanes 20: 24-28). Yohanes berkata bahwa Petrus dan murid-murid mengenelai Yesus hanya setelah Tuhan mengatakan kepada mereka untuk menurunkan jala lagi agar berhasil setelah usaha mereka menangkap ikan semalaman yang mengecewakan (Yohanes 21: 4-7).

Lukas menekankan pentingnya percakapan pribadi Yesus kepada para murid sebagai introduksi bagi mereka untuk mengenali Dia. Dalam menceritakan kisah dua orang murid yang bepergian ke Emaus, Lukas menekankan bahwa mereka baru dapat mengenal Yesus setelah Tuhan secara pribadi memimpin mereka melalui Kitab Suci dan “memecahkan roti” bersama mereka (24: 13-35). Injil-injil sinoptik menghubungkan pengakuan para murid tentang Tuhan yang bangkit dengan “memberi mereka suatu tugas,” sekali lagi kata-kata yang sangat pribadi menyentuh pada tanggung jawab mereka untuk melanjutkan pelayanan-Nya. Kisah-kisah Injil menunjukkan bahwa kemampuan para murid untuk mengidentifikasi Tuhan yang bangkit tidak hanya bergantung pada penampakan Yesus di hadapan mereka, tetapi juga pada kata-kata-Nya secara pribadi kepada mereka.

Kesimpulan

Kisah-kisah Injil dengan hati-hati menekankan efek akhir dari penampakan dan kata-kata Tuhan yang bangkit. Penampakannya membawa para murid ke iman yang lebih kaya dan lebih dalam tentang siapa Dia. Mereka mengekspresikan iman yang lebih dalam kepada Yesus dengan memberikan kepada Dia, yang masih diakui sebagai yang disalib, suatu nama baru. Secara individu dan bersama-sama, mereka bersukacita: “Kami telah melihat Tuhan” (Yohanes 20:18, 25; 21: 7), sementara Tomas bahkan secara lebih eksplisit mengakui: “Tuhanku dan Allahku” (Yohanes 20:28). Seperti tulisan Rasul Paulus kepada jemaat Filipi, para penginjil berusaha untuk menyoroti fakta bahwa para murid, ketika mereka melihat dan mendengar Kristus yang bangkit, memberi Yesus “nama di atas segala nama” (Filipi 2: 9): Yesus adalah satu dengan Allah; Dia dipenuhi dengan kehidupan Allah: “Yesus adalah Tuhan.”


Brian Purfield adalah Kepala Pendidikan Teologi di Mount Street Jesuit Center, London, UK.
https://www.thinkingfaith.org/articles/20080322_1.htm
[Terjemahan Zakaria Ngelow, 15 April 2020]
Ilustrasi: Edgardo De Guzman, “Jesus With 12 Apostles”

sumber : FB. Zakaria Ngelow

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments