Sabtu, Juni 15, 2024
Google search engine
BerandaKEBUDAYAANSastraPerempuan, Konflik, & Perdamaian

Perempuan, Konflik, & Perdamaian

RESENSI BUKU Perempuan, Konflik, & Perdamaian, Tuturan Perempuan Korban dan Penyintas Konflik dan Perdamaian di Poso, Ambon dan Atambua. Jakarta: Kolimon, Mery dkk (ed). Pertjetakan Djogdjakarta, 2021; 506 hlm.

Oleh: Asaria Lauwing Bara

Buku Perempuan, Konflik dan Perdamaian menjelaskan asal muasal terjadinya konflik di tiga wilayah di Indonesia Timur yaitu Poso, Ambon dan Atambua. Di Wilayah Poso tanggal 26 Desember 1998, terjadi pembacokan terhadap seorang pemuda Muslim oleh seorang pemuda Kristen yang mabuk di depan Masjid Darussalam di Poso Kota, Sulawesi Tengah, inilah pemicu yang membuat terjadi bentrokan antara massa Kelompok Kristen dan Muslim di Poso. Pada tanggal 19 Januari 1999, terjadi konfik yang diawali dengan perkelahian antara seorang pemuda Muslim dan seorang pemuda Kristen. Konflik dua orang pemuda itu kemudian berkembang menjadi konflik di antara antara dua komunitas agama yaitu Kristen dan Islam di Kota Ambon. Di Atambua tanggal 7 Desember 1975, Negara Indonesia melakukan invasi besar-besaran ke Timor Leste melalui darat, laut dan udara. Dalam waktu setahun, Fretelin membangun sebuah struktur dan strategi perlawanan, termasuk perlawanan bersenjata, yang bertahan selama pendudukan Indonesia. Pada tanggal 4 September 1999, pengumuman jejak pendapat (78,5% suara memilih kemerdekaan) memicu kerusuhan dan penjarahan missal di Timor Timur serta pengungsian sebanyak 250.000-275.000 orang ke Indonesia, kebanyakan ke Timor Barat (Hlm. 32).

Ketika konflik terjadi siapa yang diuntungkan? Bagaimana narasi masyarakat akar rumput yang terkena dampak konflik khususnya perempuan dan anak? Kisah paska konflik di Poso, Ambon dan Atambua diperlihatkan dalam buku ini bahwa Perempuan dan anak-anak adalah korban-korban terdepan dari barisan para korban. Penderitaan itu bisa terungkap dalam seluruh suasana kamp yang menyedihkan, buruknya gizi, makanan higenis, sumpek dan lingkungan yang kotor rentan membuat kesehatan ibu dan tingginya kematian anak akibat malnutrisi.

Menurut Tim Peniliti Poso “Tidak seorang yang pernah memperkirakan konflik akan terjadi. Karenanya, tidak seorang pun mempersiapkan diri menghadapi peristiwa konflik. Mengungsi melalui hutan dan gunung dengan pakaian seadanya dan tanpa bekal apa pun (Hlm.92). “kalau yang mengungsi sama-sama kita orang Kristen dengan orang Islam, jadi siapa yang sebenarnya berkonflik ini” (hlm. 110). Menurut salah pemimpin agama di Poso “tidak ada persoalan dalam kampung. Kita semua jadi korban..tidak ada yang agama pun yang diuntungkan dari konflik ini. Semua menjadi korban dan mengalami kerugian (Hlm. 112)” Di Ambon kehidupan keluarga menjadi hancur “dia punya rumah tabakar, beta punya punya rumah juga tabakar (Hlm. 250-251)”. Kekerasan seksual yang menimpa perempuan dan anak perempuan di wilayah camp pengungsian di Timor Barat. Masalah kesehatan, hidup dengan trauma, kekerasan terhadap perempuan pengungsi, pendidikan anak-anak di kamp menjadi permasalahan pengungsi dari Timor-Timur.

Belajar dari pengalaman kelam akibat konflik, salah seorang pejuang perdamaian perempuan mengatakan bahwa proses belajar dari konflik itu sangat perlu untuk dilakukan. Paska konflik keluarga yang kehilangan pasangan hidupnya memulai hidupnya sebagai orang tua tunggal bagi anak-anak dengan pekerja sebagai penggarap karena kehilangan tempat tinggal dan kebun (hlm. 143). Masyarakat korban konflik harus terus berjuang untuk melanjutkan hidup dengan mengelolah trauma, ketakutan, kemarahan, dan dendam atas semua malapetaka yang membuat kehidupan dalam rumah tangga dan relasi sosial hancur. Gerakan perempuan akar rumput Mosintuwu membuat sekolah bagi para perempuan sebagai ruang dialog dan belajar bersama dalam memulihkan trauma, menghancurkan prasangka, membangun gerakan rehabilitasi dan menjaga daerah agar konflik tidak boleh berulang di masa yang akan datang. kurikulum agama, toleransi dan perdamaian mendapat perhatian di sekolah ini (hlm. 208-227).

Dalam buku ini harapan analisis dari Tim Penulis menulis tentang harapan-harapan dari suara-suara dari camp agar penderitaan mereka di masa lalu tidak boleh terulang kembali, ada harapan bagi masa depan anak cucu mereka untuk kehidupan yang lebih baik, impunitas terhadap pelaku kekerasan bisa dilawan dan terus diperjuangkan. Belajar dari dinamika perjuangan para korban konflik tentu menjadi urgensi bagi semua yang hidup di bangsa Indonesia bahwa potensi konflik bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Buku ini mengajari setiap orang yang membacanya untuk mencegah konflik karena konflik tidak pernah memberikan manfaat bagi siapapun karena meninggalkan memori penuh penderitaan bagi setiap orang yang mengalaminya.

Mari belajar dari buku ini. Stop konflik, stop kekerasan, mari membangun ruang perdamaian di mana pun kita berada. Mari menyebarkan damai untuk mencegah terjadinya konflik. (ALB)

 

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments