Sabtu, Juni 15, 2024
Google search engine
BerandaSAINSLingkungan HidupMenuju Hari Bumi 2023, WALHI NTT Ajak Masyarakat Mendengar Cerita Perempuan Pejuang...

Menuju Hari Bumi 2023, WALHI NTT Ajak Masyarakat Mendengar Cerita Perempuan Pejuang Ekologi di NTT

Menyambut hari Bumi 2023 yang jatuh setiap tanggal 22 April, WALHI NTT menggelar berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat umum.

Dalam berbagai kegiatan tersebut, WALHI NTT mengajak masyarakat untuk berpartisipasi melestarikan lingkungan dan menjaga kesehatan bumi.

Kegiatan yang diselenggarakan antara lain, Roadshow Hari Bumi ke Kampus-kampus di Kota Kupang dengan menggelar nobar dan diskusi film The Story of Stuff.

Saat ini WALHI NTT akan menggelar WEBINAR dengan mengangkat tema, “Perempuan Merawat Keadilan Antar Generasi Mencegah Bencana Ekologi”.

Dalam Webinar ini, WALHI NTT ingin memberi ruang kepada perempuan-perempuan pejuang ekologi, yang akan dilaksanakan pada Jumat, 21 April 2023 pukul 16.00 hingga selesai.

Mereka di antaranya; Maria Loretha (Perempuan Petani Sorgum di Flores Timur), Veronica Lamahoda (Aktivis Perempuan Pesisir), Emelia Nomleni (Ketua DPRD NTT) dan Regina Muki (Divisi Gender dan Lingkungan Hidup WALHI NTT).

Webinar akan dipandu oleh Dina Soro dari Yayasan PIKUL.

Ketua panitia Hari Bumi 2023 WALHI NTT, Gres Gracelia dalam rilis ke sejumlah media menjelaskan, kegiatan ini akan membuka ruang bagi perempuan NTT untuk mendiskusikan keterlibatan perempuan dalam perumusan kebijakan yang ramah lingkungan.

Menurut Gres Gracelia, keterlibatan perempuan tani maupun perempuan pesisir dalam perumusan kebijakan lingkungan mesti menjadi agenda yang perlu dibahas secara bersama dan berkelanjutan.

Gres mengatakan, perempuan berperanan penting dan merupakan pemegang kendali dalam hal ketersediaan pangan keluarga.

“Kendali yang dimaksudkan tak hanya berarti mencukupi makanan pada hari ini melainkan surplus untuk hari esok. Dan pada perempuanlah kerja-kerja dan kemampuan mengawetkan dan melestarikan ketersediaan makanan untuk penggunaan di masa depan dipertaruhkan,” jelasnya.

Untuk itu, melihat kembali kelekatan perempuan dengan alam, kata dia, sejatinya secara satu kesatuan. Sebab perempuan adalah mitra alam bukan penguasa alam.

Di NTT beragamnya ancaman pembangunan yang berakibat pada bencana ekologis baik di sektor industri pariwisata, perkebunan monokultur, infrastruktur, tambang dan juga geothermal selalu menghasilkan cerita pilu bagi perjuangan perempuan.

Di Pocoleok Manggarai misalnya, ancaman pengembangan geothermal Ulumbu yang akan diluaskan ke wilayah Pocoleok mengakibatkan perempuan Pocoleok dalam ancaman kehilangan akses terhadap hutan dan alam, tempat mereka mempertaruhkan hidup di kampung halaman.

Karena itu, ketika hari ini para perempuan Pocoleok secara terang-terangan berada di garda terdepan dalam melakukan perlawanan, harus bisa diterima sebagai konsekwensi menjaga kelangsungan hidup dan masa depan mereka dan anak cucu mereka.

Selain perempuan Pocoleok, ada perempuan Besipae yang secara terang-terangan melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Provinsi NTT untuk menjaga hutan adat mereka, yang sedianya akan dialihkan untuk kawasan peternakan oleh pemerintah provinsi.

“Saya juga teringat dengan pesan Mama Aleta Baun saat bertemu di Tomenas dalam acara Pasar Katemak yang dilaksanakan oleh Yayasan PIKUL beberapa waktu lalu, di sana beliau bilang: “Jangan jual apa yang tidak bisa kita buat. Batu, tanah, air, hutan, itu kita tidak bisa buat, jadi jangan jual. Jual apa yang kita tanam, yang kita bisa buat.”

Mama Aleta merupakan sosok aktivis perempuan asal Mollo TTS yang berhasil menggunakan tenun ikat untuk melawan perusahaan tambang batu marmer di Mollo, NTT.

Selain kisah perjuangan perempuan melawan ancaman ekologi di NTT ini, ada kisah-kisah inspiratif perempuan yang juga melakukan kerja-kerja merawat ketersediaan pangan dan merawat kehidupan pesisir agar keberlangsungan hidup setiap ekosistem tetap terjaga dengan baik.

“Kisah perjuangan perempuan petani Sorgum dan bagaimana Perempuan Pesisir melakukan kerja-kerja merawat wilayah pesisir dengan kearifan lokal adalah kisah inspiratif di tengah maraknya pemerintah mewacanakan pembangunan berkelanjutan di NTT,” ujar Gres.

Untuk itu, WALHI NTT menjagak semua elemen masyarakat untuk terlibat dalam mendengar “Cerita Perempuan Merawat Keadilan Ekologi di NTT”. Sebab seperti yang dikatakan oleh Roky Gerung, “Bahasa Perempuan adalah bahasa yang datang dari pengalaman keadilan.”

Bagi siapa pun yang ingin berpartisipasi, boleh mengakses melalui link zoom berikut.

Link Zoom: https://bit.ly/3GU3pM6
ID Rapat : 357 035 5138
Passcode : LESTARI

Bumi kita hanya satu: Mari jaga dan rawat bersama.

Salam Adil dan Lestari!

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments