Sabtu, Juni 15, 2024
Google search engine
BerandaKEBUDAYAANAdat IstiadatPEMBAGIAN MUSIM DAN MAKANAN ORANG ROTE

PEMBAGIAN MUSIM DAN MAKANAN ORANG ROTE

PEMBAGIAN MUSIM DAN MAKANAN ORANG ROTE

Hari ini, Panggilan Beribadah dalam Liturgi GMIT menyebut Pule Sio. Apa itu Pule Sio? Pule Sio adalah sembilan jenis makanan orang Rote yang disebut dalam ritual pertanian Orang Rote. Sebelum masuknya agama Kristen, ritual ini adalah ritual terpenting dalam kehidupan orang Rote yang disebut ‘hus’. Ritual ini menyangkut permintaan akan air dan kesuburan karena persoalan air adalah keprihatinan dan tema utama dalam kehidupan orang Rote.

Upacara hus yaitu upacara meminta hujan berlangsung di musim kemarau, di akhir musim panen. Kata hus berasal dari kata dasar, hu, yang berarti ‘penyebab’, ‘sumber’, ‘akar’, ‘batang’, atau ‘asal’. Misalnya dalam kata “to’o huk” artinya om atau saudara laki-laki ibu darimana kita berasal. Karena itu peran to’o dalam keluarga orang Rote sangat penting yang akan kita bahas dalam tulisan lain.

Hus berlangsung di akhir tahun berjalan tetapi orang Rote melihatnya sebagai awal tahun baru. Setiap nusak mempunyai hus-nya sendiri. Ada hus besar (hus ina) di beberapa tempat dan ada hus kecil di beberapa tempat lain.

Ritual hus sebenarnya adalah upacara pemujaan kepada bulan untuk meminta hujan, hasil laut, hasil panen lontar, panen yang melimpah, kesuburan ternak serta kesehatan dan kekuatan untuk manusia. Hus dijalankan di musim panas di bulan-bulan setelah panen dan sebelum turunnya hujan. Dalam hal ini hus adalah menantikan tahun yang baru dan bukan melihat kembali atau bersyukur akan tahun yang lama. (Fox, 1968:72)

Upacara hus mulai berkurang bahkan hampir hilang sejak tahun 1960-an, karena ditentang oleh gereja yang menganggap upacara ini mengandung unsur penyembahan berhala. Waktu berusia sekitar 5-6 tahun saya masih menyaksikan hus di Oeulu pada bulan Januari dan seingat saya, saya hampir mati kejepit massa pada saat itu. Untunglah saya bisa meloloskan diri.

Sampai sekarang di beberapa nusak termasuk nusak Dengka dan Thie masih diselenggarakan hus, walaupun unsur ritualnya ditiadakan dan hanya unsur perayaan berupa pacuan kuda yang dilakukan. Hus terakhir yang pernah saya lihat adalah hus di Oebatu, Thie pada 13 Juli 2022, dan pada tahun yang sama juga terjadi di Tasilo, Dengka pada 12 Agustus 2022 yang disebut hus Nde’o atau Hus Lailete.

Pembagian Musim Menurut Orang Rote

Perhatian terhadap air dan hujan adalah perhatian utama dari sepanjang tahun orang Rote. Orang Rote membagi tahun (teuk) menjadi dua musim, masing-masing dicirikan oleh angin muson yang berganti-ganti.

(1) Fai-oe-fak (‘hari-hari air mengalir’) adalah musim hujan yang didominasi oleh angin musim barat, ani mulis atau ani-fak, angin barat. Musim ini berlangsung dari bulan November hingga April, tetapi hujan selama musim ‘basah’ ini tidak dapat diandalkan dan tidak dapat diprediksi.

Dalam tahun dimana terjadi hujan lebat, biasanya ada hujan ringan di November, hujan lebat di bulan Desember dan Januari, terkadang hujan lebat di Februari diikuti oleh hujan ringan yang konsisten hingga April. Kenyataannya jauh lebih suram dari ini dan kepedulian terhadap air dan hujan tak diragukan lagi merupakan kepedulian utama dalam kehidupan orang Rote.

(2) Fai-hanas (‘hari panas’) adalah musim kemarau, didominasi oleh angin timur, ani timu. Seringkali musim ini disebut sebagai fai-timu atau hanya timu. Berbeda dengan fai-oe-fak, Fai Timu dapat diprediksi dan tidak bervariasi. Angin barat yang kering dimulai pada bulan April dan meningkat secara intensif hingga Juli dan Agustus setelah itu mereda secara signifikan. Pada bulan Juli dan Agustus, hari-harinya panas, kering dan berangin sedangkan malam hari sangat dingin dan kadang-kadang dingin. Pada musim ini, sungai-sungai mengering, tanah menjadi retak-retak sekeras batu, dan pulau itu berubah menjadi kecoklatan dimana-mana. Ini kemudian menjadi fai-fanduk yang berlanjut sampai hujan besar pertama dari fai-oe-fak.

Orang Rote menganggap fai-fanuk sebagai kelanjutan (mungkin intensifikasi) dari fai-hanas, meskipun angin timur telah reda dan pada akhirdari fanuk angin timur telah berhenti sama sekali. Ini adalah periode peningkatan aktivitas setelah hus, waktu penyadapan lontar dan memasak gula lontar. Dengan hujan pertama, uda poli afuk (‘hujan mengguyur abu’ [dari api untuk memasak gula lontar]), penyadapan dan memasak harus dihentikan dan pembersihan terakhir dari ladang dan taman harus diselesaikan.

Kultus Pule Sio

Di ruang bagian dalam (uma dalek) rumah orang Rote, di bagian yang disebut bagian perempuan dari rumah, biasanya ditempatkan wadah anyaman lontar (sokal) kecil untuk biji-bijian (beras atau jewawut) di samping tangga menuju ke loteng. Keranjang ini disebut soka pule sio: ‘sokal sembilan benih’. Awalnya kultus sembilan benih ini adalah kultus beras dan jewawut.

Dalam banyak kasus, yang dimaksudkan sembilan benih adalah benar-benar sembilan benih yang sebenarnya, tetapi dalam pengertian lain simbol sembilan benih, meskipun tetap diwakili oleh padi dan jewawut, ditafsirkan sebagai simbol untuk semua sumber makanan orang Rote.

Hal ini telah menyebabkan upaya sadar untuk mengklasifikasikan semua sumber makanan dalam sistem kategori kelipatan sembilan. Kesembilan makanan ini secara alternatif disebut Lakamola anan sio, ”sembilan anak Lakamola’. Lakamola adalah bukit yang tinggi di wilayah timur Bilba. Kesembilan kategori makanan orang Rote itu adalah:

  1. Hade: padi
  2. Betek: jawawut
  3. Mbelak/pelak : jagung
  4. Mbela-hik/Pela-hiek: sorghum
  5. Ufi: berbagai macam umbi-umbian : ubi jalar,
  6. Fufue: berbagai macam kacang polong, kacang tanah, dan buncis
  7. Nggelas/timu langga duik: labu
  8. Tulis : sejenis kacang hijau
  9. Lena : wijen

Klasifikasi ini sama di seluruh nusak meskipun ada sedikit variasi perbedaan dialek dalam nama-nama tanaman ini. In nusak dimana Lena tidak terdapat, sering digantikan dengan gula lontar, tua, untuk melengkapi daftar ini.

1] Hade, padi. Padi adalah makanan asli orang Rote. Orang-orang Timor justru mengenal padi dari orang Rote. Sampai dengan tahun 1908, menurut catatan ilmuwan Belanda, Jongker, sekurang-kurangnya ada 30 varitas padi yang ditanam di pulau Rote. Kebanyakan adalah hade ina, padi besar, atau ‘ibu padi’ yang waktu panennya adalah 120 hari atau lebih.

2] Betek : jewawut. Ini adalah biji-bijian pokok tradisional lainnya dari orang Rote. Di domain penanaman padi basah yang lebih baik di pulau (Termanu, Baa, Loleh, Korbaffo dan Bilba), beras ditanam hampir membuat jewawut diabaikan. Namun di daerah yang kurang lahan basahnya, dimana padi juga ditanam di lahan kering, jewawut sama pentingnnya dengan padi, bahkan bisa lebih penting dari padi.

3-4] Mbela dan mbela hik, jagung dan sorghum. Jagung dan sorghum diklasifikasi bersama namun dibedakan mbela hik dibedakan dari mbela. Jagung dianggap bentuk tertua dari jagung. Di sepanjang Timor dan Sumba, sorghum disebut “jagung Rote”. Sorghum atau jagung Rote sudah lama hilang dari Rote digantikan jagung. Seingat saya semasa kecil di Oeulu, Rote kami anak-anak sering mengambil batang sorghum untuk dijadikan kuda-kudaan.

5] Ufi: berbagai macam umbi-umbian. Dua macam umbi yang umumnya dimakan di Rote adalah ubi jalar yang disebut ufi dan singkong yang disebut ufi ai. Orang Rote juga mengenal kentang yang disebut ufi sina atau ‘ubi Cina’. Ada juga umbi besar yang disebut ‘ufi nula’ (ubi hutan) yang umumnya diberikan kepada babi. Umbi-umbian dan sejenisnya tidak ditanam dalam jumlah besar di Rote. Ubi jalar dan singkong umumnya direbus dan dimakan dengan gula lontar, yang merupakan makanan tamnbahan sekali-kali kepada makanan utama.

6] Fufue: berbagai jenis kacang polong, kacang tanah dan buncis. Fufue yang paling umum di Rote adalah kacang tanah, fufue dae. Jauh kurang penting adalah fufue lutu, kacang hijau ditemukan terutama di wilayah selatan Loleh. Kacang merah yang disebut ‘fufue ngga’ tumbuh dalam kualitas kecil di berbagai bagian pulau. Umumnya umbi-umbian ini dicampur dengan betek dan sorghum untuk menambah sedikit rasa kepada makanan.

7-9] Nggelas, Tulis, dan Lena: labu, kacang hijau, dan wijen. Tak satu pun dari ketiga tanaman ini memiliki nilai subsisten utama bagi orang Rote, namun ketiganya tetap penting dalam ritual pule sio.
Daftar sembilan makanan penting orang Rote ini tidak menghabiskan jenis makanan yang tumbuh di pulau itu. Bahkan, beberapa tanaman pangan yang tidak ada dalam daftar ini lebih bersifat subsisten nilainya dari, misalnya, tulis atau lena. Bawang (laisona mbilas) dan bawang putih (laisona fulak) bersama dengan tembakau (modok) – ditanam di kebun yang dirawat secara khusus di musim kemarau. Orang Rote juga memiliki berbagai macam cabai merah (kulus) , tomat ukuran kecil (mata bai Lote), beberapa mentimun (timu-tei, patola), dan sejenis semangka kecil (titimu dafa). Selain ini ada buah dari pohon buah-buahan. Buah yang paling utama adalah pisang (huni), buah ‘pepaya (titimuk), sukun (suuk) , nangka (suu maboa baek), jeruk (delo), mangga (pao/mbao) dan kelapa (no).

Pule sio, mewakili totalitas tanaman di Rote. Soka pule sio ditempatkan pada bilik perempuan dari rumah adat Rote, uma dalek, dan secara tradisional adalah tugas perempuan untuk membawa, dalam upacara hening setiap tahun, beras baru dan millet pule sio ke dalam rumah. Perempuan diasosiasikan dengan pule sio. Saat rombongan pengantin laki-laki datang ke pengantin rumah pengantin perempuan untuk meminta pengantin perempuan, mereka datang meminta pule sio. Seorang perempuan diidentifikasi dengan pule sio terutama selama pemindahannya ke rumah suaminya. Pemindahannya adalah pemindahan kesuburan. [**]
[Semoga Bersambung]

Ket. foto:
(1) Persawahan di Mokdale, Rote
(2) Sorghum di Rote
(3) Hus di Rote yang tidak ada unsur ritualnya sehingga hanya disebut Foti Hus karena hanya ada pacuan (foti) kuda saja.

sumber : Fb Matheos Viktor Messakh

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments