Nikki Antonio – Peneliti Psikologi Sosial

Apakah Anda melihat naga atau pola lain dalam lukisan ini? Jika iya, Anda kemungkinan percaya konspirasi

Setahun lebih kita tertatih, dengan masalah baru Covid yang semakin menjadi. Potensi gelombang kedua dan masalah vaksinasi, pemerintah tak hanya mengejar waktu melawan entitas biologis ini, tapi juga wabah konspirasi yang menyertainya.

Sebagian mungkin bertanya, mengapa bisa orang tertular wabah konspirasi padahal jelas ada yang mati? Ada yang menuduh mereka bodoh, padahal jelas tidak ada hubungannya. Percaya pada konspirasi Covid tidak hanya terjadi di Negara berkembang, tapi juga menerpa penduduk di Negara maju sekalipun. Mengapa bisa jika tak berhati-hati, kita bisa tergelincir dan jadi pengikut “Teluur” (akun Instagram dengan pengikut lebih dari 690ribu yang aktif melakukan propaganda konspirasi Covid)? Boleh jadi tanpa intensi, namun kerentanan diri manusia membuatnya jadi tak terelaki.

Salah satu kerentanan yang dimiliki manusia adalah kecenderungan untuk melihat illusory pattern atau pola hubungan tak nyata dari dunia, yang tidak dilihat oleh orang-orang pada umumnya. Misalnya saat kita sedang memikirkan teman lama dan tiba-tiba mendapat telpon dari yang bersangkutan. Sebagian menganggap ini terjadi karena kebetulan, tetapi ada juga yang menganggap ini terjadi karena pikiran kitalah yang mempengaruhinya untuk menelpon.

Pada dasarnya kita semua melihat koneksi dan pola sebab-akibat yang muncul di sekitar. Seperti saat melihat adanya awan hitam tebal dan angin kencang, kita umumnya menyimpulkan kemungkinan akan segera turun hujan. Namun ada juga orang yang sampai menghubung-hubungkan awan tersebut hingga terbentuk pola hewan dan memaknai hal ini secara berbeda. Dalam konteks Covid-19, beberapa penganut konspirasi menganggap bahwa pandemi sengaja diciptakan sebagai agenda elit global untuk mengendalikan manusia lewat vaksin yang telah disusupi microchip. Dalam serangkaian eksperimen yang dilakukan oleh Jan-Willem van Prooijen, Karen M. Douglas, Clara De Inocencio (2017) ditemukan bahwa illusory patternmerupakanmesin kognitif di balik keyakinan irasional orang-orang penganut teori konspirasi dan hal-hal berbau supranatural. Contohnya menghubungkan garis tangan, hari lahir, atau konstelasi bulan dan planet untuk menentukan nasib seseorang.

Lalu bagaimana hal ini bisa terjadi hingga membuat orang menganut teori konspirasi?

Dalam teori konspirasi, para penganut teori ini percaya bahwa dunia dikendalikan oleh sekelompok elit global yang mempunyai agenda tersembunyi dan jahat. Teori-teori ini biasanya muncul pada saat terjadi sebuah peristiwa besar atau kejadian-kejadian yang sulit dipahami akal sehat manusia, seperti pendaratan manusia di Bulan, tenggelamnya kapal Titanic, UFO, peristiwa 911, atau wabah Covid-19.

Peristiwa-peristiwa ini menimbulkan ketidakseimbangn psikologis berupa ketidakpastian dan ketakutan. Wabah Covid-19 jelas menimbulkan ketidakpastian dan ketakutan yang masif bagi manusia. Sekitar 185 juta orang telah tertular, mayat-mayat bergelimpangan, sistem kesehatan dan ekonomi hancur, pembatasan sosial, dan semakin diperparah dengan munculnya varian baru. Masalahnya, kecenderungan alamiah otak manusia dalam mencari dan menghubungkan pola akan semakin menguat ketika merasa takut atau kehilangan kendali atas situasi dunianya. Untuk kembali pada keseimbangan psikologis, manusia akan berusaha mencari penjelasan-penjelasan tentang apa yang terjadi disekitarnya.

Di titik inilah virus konspirasi bisa menulari lewat preferensi dua strategi berpikir yang dipilih manusia dalam mengolah informasi dan membuat penilaian (judgement), yaitu mengunakan strategi intuitif (sistem 1) atau analitik (sistem 2). Strategi intuitif merujuk pada cara berpikir cepat, mudah dilakukan, dan menggunakan insting. Strategi ini terjadi secara otomatis dengan sedikit atau tanpa usaha. Sedangkan strategi analitik dicirikan dengan cara berpikir penuh usaha, berhati-hati, dan strategis. Dibutuhkan niat besar dan analisis mendalam dalam menggunakan strategi ini. Pada kenyataannya, manusia membutuhkan kedua strategi ini dalam hidup. Manfaatnya sangat tergantung pada konteks yang sedang dihadapi, tidak ada yang lebih baik dibanding satu sama lain. Misal, saat sedang menyeberangi jalan dan tiba-tiba ada mobil yang melaju cepat ke arah kita, kemungkinan kita tertabrak akan membesar jika kita menggunakan strategi analitik dibanding intuitif.

Dalam unpublished study yang dilakukan oleh Jan-Willem van Prooijen, Karen M. Douglas, Clara De Inocencio ditemukan bahwa pemikir intuitif lebih mungkin untuk melihat pola ilusi (illusory pattern) dibandingkan pemikir analitik sehingga mereka rentan untuk menganut teori konspirasi. Kunci dalam strategi intuitif adalah proses cepat dan mudah untuk dilakukan. Covid-19 merupakan hal baru dan konsep pengetahuan tentang virus ini tentu tidak mudah untuk dimengerti oleh kebanyakan orang, terutama awam. Dibutuhkan niat dan usaha besar jika individu ingin memahaminya. Keinginan untuk menghilangkan rasa takut dan ketidakpastian secara cepat, serta kemudahan dalam memproses informasi bisa jadi motivasi untuk mengadopsi strategi ini. Oleh karena itu, jika Anda malas dan tidak berhati-hati, bisa saja Anda tergelincir menjadi pengabdi “Teluur” yang percaya bahwa Covid-19 adalah konspirasi. Bahkan lebih buruk lagi, ikut menjadi propagator dan penyebar wabah ini di mana nyawa teman dan keluarga jadi taruhannya.

Percaya pada teori konspirasi memprediksi perilaku maladaptif seperti menarik diri dari politik, permusuhan, dan radikalisasi. Dalam konteks pandemik Covid-19, muncul beberapa perilaku maladaptif di masyarakat seperti tidak menjalankan protokol kesehatan, menolak vaksin, atau memilih pergi ke dukun dibanding medis untuk mengobati Covid-19.

Wabah konspirasi ini bagi saya lebih menakutkan karena ia menular lebih cepat, mengadu yang tak gaduh, dan menghenti nadi silaturahmi. Orang “dipaksa” tak peduli hingga nampak tak bernurani. Kadang hingga ada yang jadi sok aksi, bak satria piningit penyelemat negeri. Virus ini lebih berbahaya dari Covid-19 karena tak hanya membahayakan diri tapi juga bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan sosial dalam masyarakat kita. (15 Juli 2021)