Taklale.Com,-Jika anda berkunjung ke Kota SoE, lokasi wisata terdekat mana yang bisa anda kunjungi? Jika anda penggemar wisata sejarah maka SoE punya cerita mirip-mirip cerita Alkitab. Di tahun 1960-an di saat situasi politik di Republik ini bergejolak, terjadi juga sejumlah kebangunan rohani di berbagai tempat di Indonesia termasuk di kota dingin dan sepi SoE. Sebagai akibat dari kebangunan rohani di SoE ini diklaim telah terjadi suatu mujizat: air berubah menjadi anggur. Peristiwa ajaib itu terjadi di pertengahan tahun 1960-an.

Bahkan peristiwa serupa mujizat dalam Alkitab ini mendapat perhatian berbagai pihak dari dalam dan luar negeri. Seorang reporter Tyndale House Publisher, Don Crawford menuliskan dalam bukunya “Miracle in Indonesia” antara lain sebagai berikut: “Another team, desiring to celebrate the Lord’s supper but having no wine, was in similar fashion instructed to use water from a nearby spring. As at the wedding Christ attended in Cana, the water, when drunk for the communion celebration, had become wine. (Don Crawford, Miracles in Indonesia (Wheaton, IL: Tyndale, 1972), h. 26).

Bahkan seorang akademisi Jerman, Kurt Koch, juga mendapat laporan bahwa pada 5 Oktober 1967 telah terjadi mujizat air berubah menjadi anggur dan kemudian mujizat itu terjadi lagi selama tujuh kali. Koch mengaku bahwa ia sendiri mengalami mujizat itu saat berkunjung ke Timor. (Kurt Koch, Wine of God: Revival in Indonesia, Formosa, Salomon Islands, and South India, (Grand Rapids International Publications (1974) h. 28-39).

Pdt. Benjamin Manuain, seorang pendeta Gereja Masehi Injili Timor (GMIT) di SoE antara tahun 1960 dan 1996, bersaksi bahwa di tahun 1965 mujizat tersebut terjadi melalui seorang perempuan bernama Agustina Liufeto.

Sejak itu, selama satu setengah tahun, jemaat di SoE merayakan perjamuan kudus dengan anggur hasil mujizat tersebut. (Wawancara dengan B. Manuain oleh Charles A. Bessie, SoE, 21 Maret 2001; kesaksian Manuain dibenarkan oleh Johana Fallo-Nomleni, salah satu saksi mata kejadian tersebut, wawancara dengan Johanna Fallo Namleni oleh Charles A, Bessie, SoE, 20 Maret 2001. (Lihat Gani Wiyono, Timor Revival: A Historical Study of the Great Twentieth-Century Revival in Indonesia. AJPS 4/2 (2001), h. 269-293).

Lokasi kejadian peristiwa ini sekarang telah menjadi situs wisata sejarah di Kampung Aman, Desa Kuatae, Kota SoE. Di Kampung Aman ini situs dan segala benda yang berkaitan dengan mujizat ini masih terpelihara dengan baik.

Setiap tahun pada tanggal 22-26 September, warga gereja di SoE terus merayakan peristiwa ini di situs yang diyakini sebagai tempat terjadinya mujizat. Sebuah guci yang digunakan menyimpan air yang dipercaya berubah menjadi anggur juga masih tersimpan.

Pohon Ratu Beatrix

Selain lokasi mujizat di kampung Aman, di dalam kota SoE ada sebuah pohon yang ditanam pada tahun 1938 bertepatan dengan hari kelahiran Ratu Belanda, Beatrix Wilhelmina Armgard yang lahir pada 31 Januari 1938. Itulah sebabnya pohon ini disebut warga Kota SoE sebagai Pohon Beatrix.

Di bawah pohon ini terdapat sebuah prasasti bertuliskan bahasa Belanda: “Deze boom werd geplant voor de geboorte van Beatrix Wilhelmina Armgard Prinses van Oranje-Nassau Prinses van Lippe-Biesterfeld op 31 Januari 1938”. Artinya: “Pohon ini ditanam untuk kelahiran Beatrix Wilhelmina Armgard Putri Orange-Nassau Putri Lippe-Biesterfeld pada 31 Januari 1938.” Sayang sekali, kondisi pohon ini kurang terawat dan bahkan prasastinyapun tidak terjaga dengan baik.

Taman Bu’at yang dulu menjadi ‘Trade Mark

Baca Juga  Perbukitan Bijae Le Nakan, bukan di Swiss atau di Eropa manapun

Dari Kota SoE, lokasi mana yang sebaiknya anda kunjungi lebih dahulu sebelum menuju ke wilayah Fatumnasi? Anda dapat saja langsung ke arah Fatumnasi dengan menempuh ruas jalan SoE-Fatumnasi, namun ada juga beberapa lokasi wisata yang terletak tak jauh dari kota SoE yang dapat juga anda kunjungi.

Lokasi terdekat dengan kota SoE adalah sebuah taman wisata yang seakan sudah menjadi ‘trade mark’ kota SoE yaitu Taman Rekreasi Bu’at. Sekitar tahun 1970-1980 rasanya tidak lengkap kalau ke SoE tanpa singgah di Taman Bu’at.

Terletak di area Hutan Lindung Bu’at, taman yang didirikan tahun 1977 ini hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari kota SoE. Pengunjung dapat menggunakan jasa ojek untuk sampai ke lokasi taman ini dengan biaya sebesar Rp10.000. Tarif masuk ke taman ini cukup murah. Untuk anak-anak sebesar Rp.1.000, dewasa sebesar Rp.3.000,-, per mobil dikenakan Rp.2.000, sedangkan motor dikenakan Rp1.000.

Di dalam taman rekreasi seluas kurang lebih 4 hektar ini terdapat sejumlah fasilitas yang membuat pengujung nyaman menikmati alam seperti lopo (semacam patio), villa, fasilitas permainan anak, juga kolam renang anak. Terdapat sebanyak 4 lopo besar yang masing-masing dapat menampung sampai dengan 20 orang, dan 7 lopo kecil yang dapat menampung 6-7 orang.

Terdapat juga sebuah villa yang dapat digunakan jika pengunjung ingin menginap di taman ini. Villa ini mempunyai 1 ruang tengah, 3 kamar tidur, dan masing-masing kamar mempunyai 2 tempat tidur (single bed). Juga terdapat sebuah dapur lengkap dengan peralatan masak. Penerangan di villa ini telah menggunakan listrik dan juga tersedia fasilitas dapur.

Pengunjung yang ingin menginap di villa ini dikenakan Rp.75.000 per kamar per malam. Para petugas taman siap melayani kebutuhan akomodasi anda saat berada di taman wisata ini. Jumlah pengunjung di taman Bu’at kebanyakan adalah pada akhir pekan dimana pendapatan pihak taman bisa mencapai Rp.400.000 – Rp.500.000 per hari.

Selain villa, Taman Rekreasi Bu’at juga menyediakan 6 unit toilet outdoor. Bagi pengunjung anak yang ingin mandi di kolam renang anak yang tersedia tak perlu kuatir karena tersedia dua unit kamar ganti bagi pengunjung. Sebuah kantin dan sebuah panggung terbuka untuk kegiatan outdoor. (Bersambung)

Penulis :  Matheos Viktor Messakh

Tulisan ini dimuat pada laman facebook penulis tanggal 29 Juni 2021

Sumber Foto : Facebook Matheos Viktor Messakh