• Komunitas Jalan-jalan Keberagaman Pontianak Kunjungi Rumah Budaya Madura

Canda tawa menghiasi diskusi dan permainan yang diikuti komunitas Jalan-jalan Keberagaman, saat mengunjungi Rumah Budaya Madura di Jl Selat Panjang 2, Siantan Hulu, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu (27/2/2021).

Dalam suasana santai dan seru, belasan pemuda pemudi bersama dengan pengurus Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM) Kalimantan Barat (KalBar) memperbincangkan stereotype, stigma, dan prasangka.

“Orang Madura itu kalau bicara kadang disalahartikan menjadi kasar atau tidak tahu diri. Pernah saya ketemu seorang pejabat di depan publik menceritakan pengalamannya. Dia belanja sayur yang dijual orang Madura. Waktu ditawar setengah harga, si pedagang bilang ‘Boleh, belinya besok, Pak’. Pejabat itu marah karena menganggap si pedagang tak menanggapinya dengan baik. Padahal kalau dipikir, mungkin omongan pedagang itu benar, karena kalau besok sayuran yang layu bisa dibeli setengah harga,” kata Subro, pengurus IKBM Kalbar. Cerita Subro disambut tawa para peserta diskusi.

Abdul Hamid, penulis buku Khazanah Budaya Madura Kalimantan Barat menyambung dengan kisah lain tentang stereotype negatif. “Orang Madura kalau manggil anaknya untuk pulang dari tempat main,teriak dari jauh. Seperti saya  teriak panggil anak, terbawa kebiasaan di Madura, karena jarak antar-rumah berjauhan. Kalau tetangga yang belum mengerti kebiasaan saya, pasti dikira orang Madura sukanya teriak-teriak,”  ujarnya.

Masalah tentang anak muda yang mengalami krisis identitas sebagai orang Madura, menjadi satu di antara pembahasan mendalam.  “Saya dulu waktu SMA pernah merasa malu sebagai orang Madura. Waktu konflik tahun 99, dengar dari cerita-cerita kayaknya orang Madura yang bikin masalah. Tapi setelah saya bergaul dengan teman-teman di bidang keberagaman, saya memastikan diri tidak perlu malu menjadi orang Madura. Kita tidak bisa memilih dilahirkan dari keluarga seperti apa,” kata Dian Lestari, Koordinator Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) Kalimantan Barat.

Provinsi Kalimantan Barat memiliki sejarah kelam konflik antar-etnis yang terjadi beberapa kali sejak tahun 1960-an hingga 2000. Pada tahun 1999 terjadi konflik antara etnis Madura, Melayu, dan Dayak. Diperkirakan ratusan orang meninggal dunia dan ribuan jiwa mengungsi dan hingga kini tak bisa kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Sambas.

Subro memaparkan bahwa ada tiga macam sikap orang Madura di Kalbar terkait identitasnya dan lingkungan sekitarnya. Pertama, merasa perlu memproteksi budayanya. Kedua, beradaptasi dengan budaya sekitar. Ketiga, lari dari identitasnya sebagai orang Madura.

Menurut dia sikap orang yang lari dari identitasnya kemungkinan karena berkembangnyastereotype negatif. Subro menyitir hasil penelitian yang menyebutkan bahwa setelah konflik antar-etnis pada tahun 1999, banyak orang Madura yang enggan mengakui identitasnya, karena merasa tak ingin disangkutpautkan dengan konflik.

Kini generasi muda Madura berupaya membangun image positif. Khairussalam, Ketua Ikatan Lanceng Praben Kalbar menuturkan bahwa dia berusaha menunjukkan sikap baik dan bermanfaat terhadap orang-orang yang berbeda latar belakang etnis. 

Usai berdiskusi, para peserta mengikuti mind mapping. Seluruh peserta diminta menuliskan tentang apa saja yang mereka pikirkan saat sebelum dan setelah kunjungan. Kegiatan ini mengeksplorasi tentang stereotype positif dan negatif.

Setelah mind mapping, para peserta  juga mengikuti games tebak gambar pepatah Madura. “Ada 2.000-an pepatah Madura yang tercatat. Sebagian besar mengandung makna tentang perilaku,” ujar Dian yang mengampu games.

Menariknya permainan tak sebatas menebak gambar yang dibuat satu orang perwakilan tim. Kedua tim juga harus berkompetisi adu kecepatan dan ketepatan menebak makna pepatah.  “Hayo, apa makna pepatah pisang hijau? Tim yang paling cepat dan benar nebaknya, dapat skor 10,” ujar Dian.

Dengan wajah kebingungan, para peserta mencoba mengira-ngira apa makna pepatah itu. Ternyata tak satupun tim yang benar menebak. “Dalam pepatah Madura, pisang hijau berarti orang pendiam yang luas wawasannya. Pisangnya kelihatannya hijau alias belum matang, tapi ternyata rasanya enak,” jelas Dian. Penjelasan itu disambut dengan kata-kata “Ooooh….” oleh peserta permainan.

Kegiatan ditutup dengan jamuan masakan khas Madura oleh Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM) Kalbar, Muhammad Fauzie. “Saya berharap semakin banyak anak muda yang peduli dengan keberagaman. Seharusnya kita sudah selesai dengan perbedaan suku, agama, dan lainnya. Semestinya saling menghargai dan menghormati. Jaga perdamaian,” kata dia. (*)

Penulis : Dian Lestari, Koordinator Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) Kalimantan Barat