Sudah berpuluh bahkan beratus kali  saya bersama teman teman peduli PMI korban Perdagangan Manusia berada di kargo bandara El Tari menerima jenazah para Pekerja Migran asal NTT kembali ke kampung halaman.

2 (dua) jenazah pernah diotopsi ulang dan saya mendampingi keluarga disamping jenazah untuk melihat apakah ada yang aneh dan bertentangan dengan hasil post mortem Rumah Sakit negeri jiran kita. Jenazah jenazah itu seakan berteriak tentang kondisi buruk fasilitas, kondisi buruk kesehatan dan penyiksaan yang mereka alami sehingga terpaksa nyawa harus melayang dalam usia yang muda  produktif. Saya teringat ceritera tentang bagaimana Pdt. DR. Merry Kolimon dalam respons menyayatnya tentang kematian para PMI di negeri jiran  menggunakan kata “tewas” ketiban kata meninggal bagi PMI yg pulang sebagai jenazah…kata yang menandai bahwa kematian yang dialami para PMI itu karena mereka mengalami pengabaian keselamatan kerja,kerja paksa melebihi kapasitas tubuh dan waktu, dan tidak memadainya asupan gizi dalam tubuh, bahkan ada yang mengalami penyiksaan sehingga trauma berat, cacat dan meninggal. Kematian yang telah melampaui batas kewajaran. Mungkin tidak semua tetapi jumlah mereka semakin meningkat.Inilah ironi para Pekerja Migran  asal NTT di negeri tetangga. Mereka memilih pergi dari kampung halamannya karena “terpaksa” mencari kerja untuk mengumpulkan uang tunai cepat untuk membeli kebutuhan hidup yg mendesak di kampungnya. Bagi mereka tidak ada pilihan lain selain pergi untuk menyabung nyawa di negeri jiran.Kondisi sosial yang demikian membuat mereka rentan ditipu oleh para mafia  penjualan orang.

Jenazah PMI yang kami sambut di kargo bandara ada 2 kelompok sebagai berikut :

Pertama, Para perempuan “orang tua tunggal” yang suaminya sakit dan meninggal, cukup banyak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga artinya suaminya telah meninggalkan mereka sendirian mengurus anak anaknya dan keluarganya, tinggal di daerah pedesaan terpencil. Sebagian besar mereka tidak menyelesaikan sekolahnya atau tidak bersekolah sama sekali karena berasal dari keluarga besar yang bergumul dengan kehidupan sehari hari di kampung terpencil. Mereka rentan memilih jalan nekad  untuk pergi keluar mencari uang di negeri jiran dengan bekerja sebagai “penolong” atau pekerja Rumah Tangga.Mereka terjebak untuk menempuh jalan tidak prosedural dan tak berdokumen sah. Ada yang ditempatkan langsung pada keluarga terseleksi yang tidak semua majikannya berhati mulia tetapi beberapa disiksa hingga cacat dan meninggal. Ada banyak yang ditampung oleh agen tenaga kerja dan memanfaatkan  tenaga mereka dengan bekerja ganda secara harian di rumah maupun toko atau bekerja sekaligus pada beberapa keluarga sehingga pekerjaan itu melewati kapasitas keterampilan dan kekuatan tenaga mereka …tidak sepadan dengan gaji dan fasilitas yang didapat. Banyak yang mengalami penyiksaan di tempat ini

Rata rata penyebab kematian mereka adalah karena septic shock, masalah jantung dan paru,KP/kurang gizi dan TBC, bunuh diri, terakhir ada yang meninggal karena kanker/ leukemia dan kecelakaan boat untuk menghindari persekusi dan sweeping aparat. Umur mereka antara 18 – 45 thn, bahkan ada pekerja anak umur 13 tahun.

Kisah keluarga yg menjemput di kargo sungguh miris…masyarakat dari mana asal para PMI.sungguh bergumul.dengan kondisi sosial mereka….bahkan menurut mereka ada anggota keluarga dan masyarakat banyak yang masih berada di negeri jiran dalam kehidupan yg terancam.

Rasanya persoalan rumit ini tak bisa diselesaikan dengan analisis apapun dan diberantas dengan kebijakan apapun kecuali bersama mereka menemukan jalan yang lebih baik dari pilihan keterancaman mereka…

Kedua, Para pekerja kasar perkebunan sawit yang bekerja melewati batas tenaga dan waktu. Perkebunan kelapa sawit merupakan mega bisnis yang mendatangkan investasi  dengan keuntungan besar bagi korporasi pengelolanya ..bahkan memberi masukan modal cukup menjanjikan bagi negara tempat tanaman ini tumbuh. Berabad lamanya material dasar minyak kelapa sawit  menjadi bahan baku utama minyak  goreng dan untuk bahan bakar biofuel untuk kendaraan dan mesin. Cukup lama industri kelapa sawit yang padat karya memanfaatkan tenaga buruh ini penuh dengan pergumulan terutama bagaimana memenuhi hak hak yang pantas bagi para pekerja terutama mereka yang bergiat langsung dengan pekerjaan yang berat dan berisiko tinggi. Data yang kami dapat dalam pelayanan kargo dan dari BP3TKI bahwa penyebab kematian para PMI perkebunan sawit negara jiran ini kebanyakan karena sakit paru, lever,dipagut ular pitom, jantung dan kecelakaan kerja, bahkan penyakit menular mematikan. Para PMI ini bekerja sebagai buruh kasar dengan upah pas pasan. Sebagian besar tidak berdokumen lengkap karena itu upahnya tidak memadai dibandingkan dengan kerja berat yang dil√†kukan, bekerja dalam keadaan terancam ditangkap, disiksa dan repatriasi paksa.karena dianggap illegal. Sebagai tulang punggung keluarga tidak ada pilihan lain…inilah pilihan hidup untuk pergi secara terpaksa untuk kerja paksa, indikasi dari sebuah perbudakan modern dalam wajah perdagangan manusia.Para pekerja ini direkrut oleh para mafia tamak yang mendagangkan jasa mereka dengan upah rendah dan hak yang tidak memadai.

Kisah miris ini membuatku selalu sensitif bila melihat di toko terpampang minyak goreng dengan bahan dasar kelapa sawit berbagai merk terkenal…….minyak lezat pilihan masyarakat untuk memasak dan membuat masakan lezat bagi keluarga sejahtera, pesta dan perayaan pengucapan syukur yg euforik dan heboh……juga mobil mobil yang menggunakan bahan bakar biofuel untuk melancarkan perjalanan, kebanggaan sejahtera diri dan industri, lambang kesejahteraan dan kekayaan yang menguntungkan anda dan saya.

Dibalik kemasan minyak goreng dan bahan bakar minyak itu…menggelantung nyawa sebagian anak NTT yang menggadai hidupnya untuk keluarganya…

Mungkin naif  dan extrim bila saya katakan bahwa ketika saya menggoreng kue, manumis makanan lezat dengan minyak yang bahan dasarnya kelapa sawit ada kenyerian di hati..seolah saya sedang menggoreng nyawa anak anak muda produktif yang telah mati muda di perkebunan Sawit itu.

Tulisan ini saya buat sebagai refleksi menjelang hari hari menuju Peringatan Hari Anti Perdagangan Manusia 30 Juli nanti…juga sebagai refleksi pelayanan kami dalam penyambutan jenazah di kargo bandara El Tari yang sudah menembus angka 50 jenazah tahun ini….pelayanan yang mengajar kami untuk berada bersama perjuangan panjang keluarga keluarga dukacita ini… perjuangan yang hanya bisa dipahami oleh mereka sendiri….dari sini kita akan diberitahu oleh fakta tentang kebutuhan mereka yang paling asazi….bagaimana cara yang bermartabat untuk menjalin kekuatan dan spirit dengan elemen karya kepedulian dari mereka yang tidak lelah memasuki lembah pergumulan ini, yg tidak jenuh dan berhenti dan mulai mempertanyakan pelayanan ini….kami akan terus berjalan bersama keluarga dan masyarakat korban ini.. karena pelayanan di Kargo merupakan salah satu mata rantai ziarah kemanusiaan yang berpusat pada hati nurani….bukan pada kebutuhan program yang dibuat di mana mereka menjadi obyek dari nama baik dan lembaga kita…..

Kargo Bandara – foto Ranakanews.com

meminjam kata kata para biarawati peduli korban TPPO…..” kami menyambut dan mendampingi mereka sampai semua orang (termasuk negara) mengakui bahwa mereka adalah “CITRA ALLAH”…. (ditulis oleh Emmy Sahertian dan dimuat laman Facebook Sahertian Emmy pada tanggal 18 Juli 2018)