Taklale.Com,-Sekitar dua tahun lalu jagat maya dihebohkan dengan foto-foto di medsos tentang sebuah lokasi di Kabupaten TTS yang dikatakan seperti di Eropa. Kita memang suka bermental inferior. Apapun yang indah dari kita, entah budaya kita, alam kita atau bahkan manusianya, selalu kita bandingkan dengan Eropa. Padahal kita punya keindahan sendiri.

Apa yang disama-samakan dengan Eropa itu punya keindahan sendiri tanpa harus dibandingkan dengan Eropa. Itulah Bijae Le Nakan, sebuah perbukitan indah bak permadani tak jauh dari Taman Bu’at. Bahkan di media sosial, namanyapun salah, yaitu disebut Bikekneno. Padahal Bikekneo adalah nama desa di mana lokasi itu berada. Sedangkan tempat itu sendiri bernama Bijae Le Nakan.

Pemandangan perbukitan dengan padang hijau serta lembah ini terletak di Kecamatan Mollo Selatan, sekitar 12 Km dari Kota SoE atau 8 Km dari Bu’at. Dari lokasi ini anda dapat menikmati pemandangan yang memukau ke arah gunung Mutis. Tanggung rasanya jika sudah sampai ke Bu’at namun belum sampai ke tempat ini. Apalagi lokasi ini berada satu ruas jalan dengan taman Rekreasi Bu’at.

Perjalanan ke lokasi perbukitan ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi, maupun menumpang ojek dengan tarif pergi dan pulang sebesar Rp. 50.000,-

Bijae Le Nakan dalam bahasa Timor Atoni berarti Kepala Sapi. Di perbukitan ini anda dapat menikmati pemandangan ke arah sungai Noeleke yang mengalir dari Gunung Mollo dan Fatu Nausus. Anda juga dapat menikmati pemandangan ke arah Netpala, Fatu Nausus, To Menas serta sebagian Fatumnasi.

Di lokasi ini juga terdapat Pekuburan Mollo Tunan yaitu pekuburan pribadi Keluarga Mella, rumpun keluarga bangsawan Mollo. Sebuah jalan desa telah dibangun melintasi perbukitan ini pada tahun 2017 memungkinan pengunjung melewati lokasi ini dengan kendaraan mereka. Menariknya, signal telepon genggam dapat diakses di lokasi ini sehingga pengunjung dapat langsung mengupload foto-foto untuk social media mereka dari lokasi ini.

Sayangnya pengunjung tak dapat berada lebih lama di lokasi ini karena belum ada penginapan, tempat makan ataupun akses publik terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih dan sarana kesehatan.

Lokasi ini ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal pada akhir pekan hanya untuk sekedar mengambil foto pemandangan alam atau berswafoto dan pulang pada hari yang sama. Pemerintah desa sendiri sedang memikirkan kemungkinan pengembangan bagi lokasi yang mulai ramai dikunjungi pada beberapa tahun terakhir ini.

Dari desa Bikekneno, pengunjung harus kembali ke Kota SoE untuk dapat mengujungi lokasi lain di wilayah Gunung Mutis dan sekitarnya. Kali ini pengunjung dapat mengambil jalan satu arah ke wilayah Fatumnasi yaitu melewati ruas jalan SoE-Kapan-Fatumnasi. (baca selanjutnya AIR MENGALIR DARI OEHALA SAMPAI ‘BATU TAGEPE’, AKHIRNYA KE LAUT…)

Penulis : Matheos Viktor Messakh

Tulisan ini muat pada laman facebook penulis tanggal 30 Juni 2021 Foto : Facebook Matheos Viktor Messakh