Foto : Facebook

Tahun 2007, pemimpin Taliban Maulana Faziullah menguasai lembah Swat di  Provinsi Pakistan Khyber Pakhtunkhwa, sebelah barat laut Pakistan. Ia melarang menonton televise. Tidak boleh mendengarkan radio. Perempuan haram  keluar rumah. Yang melanggar terkena hukuman penggal.

 Ia juga memerintahkan pasukannya menyerang dan membakar sekolah-sekolah putri. Sesuai hukum yang mereka yakini, anak perempuan tak perlu bersekolah. Tokh akhirnya hanya berkecimpung di rumah. Dikawini dan melahirkan anak. Alhasil, 50 persen anak perempuan di Kota Mingora di lembah Swat tadi,  tidak bersekolah.

PBB mencatat, sejak menguasai distrik itu, antara tahun 2007-2009, Taliban telah menghancurkan 170 sekolah. Padahal sebelumnya kawasan ini dikenal sebagai wilayah paling kreatif dan bebas. Tahun 2009, Taliban mengeluarkan larangan tegas: Anak perempuan di lembah Swat tidak boleh bersekolah.

                                              =000=

Malala  mulai berbicara di depan publik untuk memperjuangkan hak atas pendidikan. Ia terang-terangan menentang kebijakan Taliban.

 “Berani-beraninya Taliban merampas hak saya atas pendidikan!” serunya di depan televisi dan radio.

Padahal pada 2009 itu ia baru 11 tahun. Namun ia sudah berani menentang kebijakan penguasa Taliban. Ia menulis sebuah blog berbahasa Urdu untuk  BBC (bahasa Urdu dipergunakan oleh kurang  lebih 100 juta masyarakat Muslim di Pakistan dan India) tentang kehidupan di bawah Taliban. Isinya penentangan semua larangan Taliban terhadap perempuan dan anak perempuan.

Ia antara lain  mengatakan, ”Aku punya hak atas pendidikan, hak bermain, menyanyi dan menari, pergi ke pasar, aku punya hak bicara dan berpendapat. Aku tak mau masa depanku hanya duduk di ruangan, dikurung empat dinding, memasak dan punya anak. Itu bukan kehidupan yang kuinginkan.”

Lekas saja Malala menjadi target pembunuhan Taliban. Apalagi setelah identitasnya yang memakai samaran Gul Makai atau Bunga Jagung, terungkap sebagai penulis blog itu.

Orang tua Malala berasal dari suku Pusthun dan menganut Islam Sunni. Namanya diambil dari penyair dan pejuang wanita suku Pusthun, Malalai dari Maiwan. Ia dibesarkan di Mingora, bersama dua adik laki-laki dan dua ekor ayam peliharaan mereka. Keberaniannya dalam menulis berkat bimbingan Ziauddin Yousafzai, ayahnya,  yang juga penyair, pemilik sekolah, sekaligus aktivis pendidikan. Ayahnya menjalankan beberapa sekolah yang dinamai Khushal Public School. Meskipun Malala mengaku ingin jadi dokter, ayahnya mendorong dia untuk menjadi politisi.

                                              =000=

Peristiwa tragis itu datang siang-siang. Tanggal 9 Oktober 2012. Malala sedang berada dalam bus sekolah. Seorang lelaki bercadar masuk ke dalam bus dan berteriak, “Mana Malala…mana Malala?”. Malala berdiri. Ia menembak Malala tepat di kepalanya. Peluru tembus mengenai leher dan bahu Malala. Dua orang temannya ikut terluka dalam serangan itu. Malala kritis.

Segera ia dilarikan ke rumah sakit. Tetapi karena peralatan medis yang sangat terbatas, Malala diterbangkan ke Inggris untuk dirawat di sebuah rumah sakit militer di Birmingham.

Ehsanullah Ehsan, juru bicara Taliban Pakistan mengatakan kelompoknya bertanggung jawab atas serangan di bus sekolah itu. Ia mengatakan, Malala adalah simbol orang kafir dan harus disingkirkan. Tetapi ulama Islam lainnya di Pakistan mengeluarkan fatwa yang membela Malala. Mereka mengatakan tidak ada hukum agama yang membenarkan penembakan anak sekolah.

Pemimpinan Taliban, Adnan Rasheed, pernah mengiriminya surat yang menjelaskan, bahwa sikap kritisnya terhadap kelompok militan itu yang membuatnya ditembak, bukan karena ia seorang penggiat pendidikan perempuan. Lebih lanjut Rasheed mengungkapkan penyesalannya, namun tidak meminta maaf atas penembakan yang dilakukan. Ia juga menyarankan Malala kembali ke Pakistan dan meneruskan pendidikan di Madrasah bagi perempuan.

                                        =000=

Penembakan tidak menyurutkan usaha Malala. Sebaliknya menjadi pendorong yang kuat untuk terus berjuang. Sejak itu Malala memperoleh panggung yang lebih luas. Ia bicara hak pendidikan bukan hanya untuk teman-teman di kampung halamannya, di negaranya, tetapi meluas ke seluruh dunia.

Ia mendirikan Malala Fund yang mengumpulkan dana untuk mendirikan sekolah dan mengadakan pelatihan-pelatihan di berbagai negara yang masih melakukan penindasan terhadap perempuan dan anak perempuan seperti di Pakistan, pengungsi Suriah di Jordania, Nigeria dan Kenya. Ia membagikan visinya agar komunitas masyarakat internasional ikut bergerak

membantu jutaan gadis yang  belum mendapatkan pendidikan formal karena faktor sosial, ekonomi, hukum dan politik.

“Tanpa pendidikan anak perempuan akan terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang panjang. Saat ini ada sekitar  66 Juta anak perempuan putus sekolah di seluruh dunia dan setiap 3 detik ada seorang gadis yang menjadi pengantin anak. Empat  dari 5 korban perdagangan manusia adalah anak perempuan. Itulah yang membuat saya mendirikan Malala Fund,” kata Malala.

Malala, kata Sekjen PBB ketika itu, Ban Ki-moon, memperjuangkan hak asasi dari mereka yang sangat lemah. Perkataan Ki-Moon ini seperti menegaskan kembali apa yang pernah diungkapkan oleh Nelson Mandela: Sebuah bangsa akan diukur bukan pada cara melayani kaum elite, tetapi cara melayani mereka yang paling lemah.

Malala berjuang untuk hak pendidikan anak-anak, karena mereka yang paling lemah. Di tengah konflik, perebutan kekuasaan, apalagi yang dilakukan dengan cara brutal seperti di lembah Swat ( Malala selalu menyebutkan tanah kelahirannya dengan “My Swat”), anak-anak dan perempuan adalah kelompok paling rentan. Mereka selalu menjadi korban.

Kita menyaksikan hal serupa dalam konflik di berbagai belahan dunia; Suriah Irak, Palestina, dan di sejumlah wilayah di Afrika. Anak-anak dan perempuan menjadi korban, bahkan diekploitasi untuk  bertempur dan menjadi budak seks.

“Dan yang paling menderita adalah anak-anak perempuan. Di tengah konflik dan di tengah sistem keyakinan dan kekuasaan yang korup, anak-anak perempuan ada di dasar piramida korban. Nasib mereka selalu memilukan,” kata Malala. Inilah yang paling utama yang diperjuangkan Malala.

                                       =000=

Malala Yousafzai menjadi salah satu calon penerima hadiah Nobel perdamaian pada tahun 2013, namun baru tahun berikutnya (2014)  ia memperolehnya. Ia penerima hadiah nobel termuda di bidang ini, 16 tahun,  bersama  Kailash Satyarthi (66), aktivis hak anak dari India.

Sebelum Nobel Perdamaian, Malala telah menerima Sakharov Prize, penghargaan tertinggi bidang hak asasi manusia dan kebebasan berpikir dari Uni Eropa (2013), Reach All Women (RAW) in War, Anna Politkovskaya Award 2013 (2013), juga Hadiah Perdamaian Anak Internasional 2013 (2013). Bulan Mei, The Oklahoma City Memorial & Museum di AS menganugerahkan Reflections of Hope Award 2013 kepada Malala dan ayahnya atas keuletan mereka mendukung hak perempuan atas pendidikan.

Ayahnya, Ziauddin, ditunjuk sebagai penasihat pendidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tanggal lahir Malala, 12 Juli, ditetapkan sebagai Hari Malala oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon.

 ”Hari Malala bukan milik saya. Ia adalah milik setiap perempuan, setiap anak laki-laki dan setiap anak perempuan yang berani menyuarakan hak-hak mereka,” kata Malala. (www.malala.org/Lex)

(diambil dari laman Facebook : Alex Japalatu)