Kuburan merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi anak manusia usai menjalani kehidupan. Perlakuan terhadap kuburan merupakan hal menarik yang patut dilirik. Kompleks pekuburan sering dianggap angker karena merupakan “rumah setan”. Untuk melewati kuburan saja ada yang takut, padahal ada banyak kuburan dan tempat pemakaman di Kota Kupang. Mungkinkah kuburan bisa diolah dan ditata menjadi obyek wisata ? mengapa tidak.

Selain puasa para raja Timor, ada juga makan zaman Pemerintah Kolonial Belanda. Selain bentuknya unik, makam-makam inipun memiliki cerita dan sejarahnya sendiri-sendiri. Cerita dan sejarahnya akan menarik manakala diramu dan ditata secara artistik. Di kota Kupang terdapat situs sejarah kompleks pemakaman tentara Belanda yang berlokasi di Kelurahan Nunhila, Kecamatan Alak. Obyek itulah yang menjadi bidikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Kupang kali ini untuk segera ditata sert dipercantik, “kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (DisBudPar) Kota Kupang, Kornelis Kapitan.

                Dengan menata kembali lokasi penguburan tentara Belanda, masyarakat bisa diingatkan tentang momentum perjuangan para pendahulu bangsa dan daerah ini saat merebut kemerdekaan. Kemajuan teknologi saat ini telah membuat masyarakat lupa kan sejarah masa silam yang memiliki arti dan maknsa tentang nilai-nilai perjuangan para pejuang. “Jika kita kembangkan pekuburan Belanda, masyarakat pasti akan kembali mengingat tentang perjuangan di daerah ini dengan bukti makam-makan para penjajah Belanda tersebut”, tandas Kapitasn.

                Selain kompleks pusara para penjajah Belanda, menurut Kapitan pusara raja-raja Timor juga mendapatkan porsi yang sama untuk didandani sehingga bisa menjadi salah satu obyek wisata sejarah dan budaya yang bisa menjadi salah satu obyek wisata sejarah dan budaya yang bisa menjadi sumber penghasilan bagi daerah.

                Sejumlah lokasi makam yang patut menjadi perhatian Pemerintah Kota Kupang masing-masing, lokasi penguburan Raja Daud Henok Tanof, salah seorang penguasa pulau Timor di masa kerajaan dulu yang berlokasi di Kelurahan Manutapen Kecamatan Alak Kota Kupang. Selain itu, kompleks pemakaman Raja Alfonsus Nisnoni dan saudaranya Raja Nikolaus Nisnoni di Kelurahan Bakunase Kecamatan Kota Raja dan kompleks pekuburan Depati Amir bin Bahren, seorang warga keturunan Bangka Provinsi Bangka Belitung yang dibuang Belanda di masa perjuangan dulu.

                Sekadar untuk tahu saja, Deputi Amir Bahren merupakan salah satu pejuang asal Belitung yang berada di pulau Timor karena dibuang tentara penjajah Belanda. Namun semangat heroiknya yang tinggi untuk menumpas penjajah dan menggapai kemerdekaan, perjungannya pun dilanjutkan di pulau Timor bersama Raja Timor. Hingga wafatnya tahun 1885, Depati Amir bin Bahren akhirnya dimakamkan di Pekuburan Islam, Kelurahan Batu Kadera Kecamatan Alak Kota Kupang dan akhirnya dinobatkan menjadi salah satu pahlawan dari deretan raja-raja Timor.

                Sejumlah lokasi kompleks makam itulah yang akan menjadi prioritas pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk dipercantik sebagai lokasi wisaa budaya dan sejarah di Kota Kupang, kata Kupang.

                Nilai sejarah merupakan salah satu lembaran masa lampau yang harus tetap menjadi sandaran dan pijakan bagi generasi muda saat ini dalam mempersiapkan langkahnya menggapai cita-cita dalam membangun daerah ini. Setiap simbol dan aset sejarah harus tetap ada dan dijaga kelestariannya agar tetap menjadi panduan di antara ruas masa lampau dan masa kini dalam meneropong keberlanjutan pelaksanaan pembangunan daerah di masa kini. Karena itu perhatian kepada makam Raja-Raja Timor dan penjajah Belanda yang ada di wilayah Kota Kupang harus menjadi titik awal kebangkitan nasionalisme di daerah agar bisa menjadi motivasi kaum muda serta penerus bangsa dan daerah dalam menapaki perjuangan hidup ke depan. Nilai juang para raja ditampilkan saat masa-masa perjuangan harus dijadikan landasan dan semangat bagi warga kaum muda saat ini untuk menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam mengisi kemerdekaan saat (ditulis oleh Putra Rianghepat dan dimuat di Tabloid Mingguan Timorense edisi II tanggal 3 – 9 Oktober 2011)

Foto : Kompasiana