“Saya adalah orang yang berdosa itu, karena judul berita yang saya buat menggunakan kata bencong,” ujar salah satu jurnalis dari Sumatera Barat yang telah menyadari kekeliruannya karena pernah memberitakan peristiwa terkait LGBT dengan diksi yang menyudutkan.

Tiga hari berproses dalam workshop Jurnalisme Keberagaman: Ciptakan Media Inklusif untuk Semua, dua puluh jurnalis dari Sumatera Barat banyak menggali dan mendialogkan bersama kaidah jurnalistik dalam memberitakan isu-isu sensitif seputar keberagaman gender dan seksualitas, etnis, dan agama atau keyakinan yang ada di sekitarnya.

Pembuatan judul, penggunaan diksi, penentuan narasumber, dan pemilihan gambar yang sensasional dan provokatif yang dapat berdampak memarginalkan dan merugikan hak-hak warga dari kelompok minoritas menjadi refleksi bersama para jurnalis yang di antaranya aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Padang dan Forum Jurnalis Perempuan (FJP) Sumatera Barat. Yang juga menjadi perhatian bersama adalah besarnya pengaruh media terhadap cara pandang setiap orang, terlebih di era revolusi digital ketika banjir dan kecepatan informasi membuat para pembaca semakin sulit untuk membedakan antara kebenaran atau fakta dengan opini.

Maka, menghindari bias-bias dalam pemberitaan menjadi tantangan serius bagi para jurnalis saat ini. Perbincangan ini menguat dalam workshop saat mendiskusikan “Dosa-dosa Media dalam Memberitakan Isu Keberagaman” yang disampaikan Direktur Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) Ahmad Junaidi (25/6).

Bias-bias dalam pemberitaan banyak dilakukan media tidak hanya pada isu LGBT. Komisioner Komnas Perempuan Prof. Alimatul Qibtiyah turut memaparkan bias gender dalam pemberitaan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan. Ia menunjukkan pembuatan judul dan diksi pemberitaan yang menurutnya bukan saja tidak adil gender, tetapi juga tidak berperspektif korban karena memakai diksi seperti ‘digagahi’, ‘dicabuli’, dan sejenisnya.

Dalam kesempatan yang sama mantan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (2015-2020) ini menyinggung polemik pewajiban jilbab di sekolah-sekolah di Sumatera Barat yang menurutnya tidak adil.

“Mereka yang merasa bahwa mengenakan jilbab itu wajib dan yang menganggap tidak wajib, harus sama-sama dihormati. Negara juga bertanggung jawab untuk menjamin kebebasan pilihan atas ekspresi yang berbeda itu,” tegas Alimatul yang adalah dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Baca Juga  Toleransi: Berani Menghampiri dan Mengasihi yang Dibenci

Sehingga, ia pun sangat menyayangkan pencabutan SKB 3 Menteri terkait seragam bernuansa keagamaan di sekolah oleh Mahkamah Agung (MA). Untuk itu, sambung Alimatul, Komnas Perempuan, lembaga tempatnya bertugas, berkomitmen untuk terus mengadvokasi polemik pemaksaan jilbab di sekolah-sekolah agar terbit regulasi yang menjamin setiap siswa bebas memakai seragam sekolah sesuai dengan apa yang diyakini agamanya, tanpa paksaan maupun larangan.

Workshop yang digelar SEJUK bekerja sama dengan Norwegian Embassy pada 25-27 Juni 2021 di bilangan danau Maninjau ini sekaligus bertujuan mengembangkan ruang aman di media bagi kelompok-kelompok minoritas di Sumatera Barat. Karena itulah hadir perwakilan kelompok minoritas dari Ahmadiyah dan mereka yang aktif di gereja, masyarakat Tionghoa dan Mentawai untuk membangun dialog dengan kalangan jurnalis.

Kegiatan ini menjadi rangkaian beasiswa liputan keberagaman (story grant) yang diberikan SEJUK kepada 8 proposal yang terseleksi melalui coaching. Masing-masing mendapatkan beasiswa sebesar Rp7.000.000.

Berikut peraih story grant jurnalisme keberagaman di Sumatera Barat:

  • Potret Harmonisasi Masyarakat Bumi Sikerei di Musim Anggau – Sri Darni, RRI Padang
  • Bisakah Tunarungu di Padang Mendapat Surat Izin Mengemudi? – Novia Harlina, liputan6.com
  • Indahnya Suara Azan dari Gereja – Aidil Ichlas, Berita Satu TV
  • Kala Milenial Merawat Kemajemukan Sumbar – Yose Hendra, Media Indonesia
  • Anak Muda Mentawai Bicara DIM & Diskriminasi – Randi Reimena, garak.id
  • Arat Sabulungan, Agama Lokal Mentawai yang Mulai Hilang – Febrianti, jurnalistravel.com
  • Mengenal Kehidupan Pekerja Seks di Padang – Ka’bati, Harian Khazanah
  • Yang Terjadi Setelah SKB Tiga Menteri Dibatalkan – Rizka Desri Yusfita, Tribun Padang

Selamat buat para jurnalis yang proposal liputannya mendapat story grant liputan keberagaman SEJUK.[]

sumber : SEJUK.ORG.by Redaksi30/06/2021 in Agama, Gender