Kabupaten  Timor Tengah Utara dengan Ibukota Kefamenanu sesuai dengan namanya,terletak di tengah arah pulau Timor Provinsi Nusa Tenggara Timor berbatasan dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Kupang, Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka, Selat Ombay dan Districk Ambeno Republic Demokratic Timor Leste Timor. Nama Timor Tengah Utara masih terasa asing bagi masyarakat di Indonesia  dan nama TTU masih terasa asing bagi negeri ini tetapi hasil karya penduduknya berupa tenun ikat terutama tenun ikat Buna sudah sangat dikenal masyarakat di seluruh dunia. Mengenal TTU berarti mengenal masyarakat yang ramah tamah, beranekaragam etnis dengan cara hidup yang  unik. Lebih dari 80% masyarakat TTU beragama Katholik Roma yang hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain seperti Kristen Protestan, Islam, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu. Selain taat beragama masyarakat TTU asli atau lebih dikenal dengan nama Atoin Meto, masih memegang teguh dan melaksanakan tradisi adat istiadat dan keagamaan peninggalan leluhur mereka. Selain tenun ikat TTU juga terkenal dengan budaya relegius dan tempat tempat wisata religius. Salah satu budaya religius  di Kabupaten Timor Tengah Utara menjelang Perayaan Paskah adalah Budaya Religi Kure oleh warga di Kote Desa Noemuti .

Religi Kure di Kote Noemuti

Kote-Noemuti adalah sebuah desa kecil di sebelah selatan Kefamenanu Ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Utara, merupakan Kota Benteng pada masa pendudukan Portugis. Wilayah ini dapat ditempuh dalam waktu 25 menit dengaan kendaraan umum mikrolet dari Kefamenanu Ibukota Kabupaten TTU. Dengan luas wilayah 90 Km², Kote dihuni oleh mayoritas etnis Timor dengan sapaan Kaes Metan. Berada dalam Lintas Daerah Aliran Sungai (DAS) Benenain, yang mengalir dari Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Belu sampai ke Kabupaten Malaka. Kote terletak 500 meter dari Jalan Trans Internasional Kupang – Timor Leste.

Noemuti masa lalu adalah sebuah kota benteng  yang dihuni oleh masyarakat etnis Timor yang dikenal dengan sapaan Kaes Metan. Dalam sistem pemerintahan adat  Noemuti  dikenal Fungsionaris  Adat  Abeuket – Akono Haek – Atikan Pah Atikan Nifu  dengan fungsionaris adatnya Meol-Salem dan Da Costa, Tobe Ha Kalili Ha, Tnone Laot Meo dan Amfin, Bakii Katila, Mafefa Meo – dan Peta’ Saeb yang bersama-sama Amnasit dalam fungsi dan perannya menjalankan roda  pemerintahan dan fungsi sosial kemasyarakatan.

Noemuti dikenal akan inkulturasi budaya, antara adat dan agama Katholik yang tercermin  dalam Ritual Budaya Religi Kure. Budaya pemeliharaan iman umat  yang dijalankan masyarakat Noemuti di Kote pada Tri Hari dalam Pekan Suci Paskah dengan berdoa bergilir pada  Ume-Mnasi/Rumah Suku –Ume Mnasi/Rumah Suku yang ditempatkan benda-benda Devosional oleh para Imam Dominikan  yang telah disucikan. Ume Mnasi/Rumah Suku yang telah disucikan dan melaksanakan Kure ini kemudian dikenal sebagai Ume Usi Neno (Rumah Tuhan).  Ume Mnasi-Ume Mnasi dan atau Ume Usi Neno letaknya di bagian hulu dan hilir kali (sungai) Noemuti mengelilingi Gereja Katolik Noemuti sebagai Pusat Iman dan Sonaf sebagai Pusat Pemerintahan Adat. Oleh Masyarakat Adat Noemuti Ume Mnasi/Rumah Suku dengan kesatuan sukunya yang berada di bagian Hulu dan Hilir kali Noemuti disebut dengan Sio Noe Haen- Sion Noe Nakan.

Menurut sejarah Kote Noemuti pada masa penjajahan Belanda di Indonesia wilayah ini berada dalam kekuasaan Portugis namun dalam perjalananya tepatnya  pada tanggal 1 November 1916  terjadi kesepakatan antara Belanda dan Portugis untuk melakukan pertukaran wilayahsehingga Maukatar wilayah kekuasaan Belanda yang ada di Timor Leste ditukar dengan Kote Noemuti wilayah kekuasaan Portugis yang ada di Indonesia.

Pertukaran wilayah telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan penduduk Kote Noemuti  namun pada wilayah ini juga masih tersimpan sebuah tradisi religi yang sangat menarik menjelang Perayaan Paskah. Ritus Perayaan Paskah yang lazim dirayakan di setiap tempat oleh umat Kristen Katholik termasuk di Kote Noemuti telah terjadi Inkulturasi dimana Ume Mnasi atau Rumah Adat  di Kote Noemuti telah disakralkan dan dijadikan Rumah Tuhan atau Ume UsiNeno (Uem UisNeno)-Rumah Tuhan – sehingga menjadi  bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian Prosesi Perayaan Paskah.

Tradisi ini diawali pada saat datangnya Topasis yang saat itu datang bersama para imam Katolik Dominikan, kemudian memperkenalkan dan menyebarkan agama Katholik yang mereka anut kepada penduduk Kote Noemuti. Salah satu peninggalan para imam Dominikan  dalam misi penyebaran iman Katholik adalah dengan menempatkan patung-patung para kudus dan benda-benda devosional pada rumah-rumah adat atau Ume Mnasi suku-suku yang ada di Kote Noemuti.

Penempatan patung-patung para kudus dan benda benda devosional ini diikuti dengan sebuah  ritus penumbuhan iman-doa bergilir dari satu Rumah Adat/Ume Mnasi ke Rumah Adat/UmeMnasi saat Tri Hari pada Pekan Suci Paskah. Ritus doa bergilir yang dilaksanakan pada Pekan Suci yaitu malam Kamis Putih, dan malam Jumat Agung merupakan rangkaian untuk memperingati hari raya Paskah ini bagi umat di Kote Noemuti di sebut Kure.

Kure adalah tugas pemeliharaan iman umat yang diembankan kepada Tetua Adat pada Ume Mnasi–Ume Mnasi dimana bila tidak ada gembala umat untuk melaksanakan tugas pelayanan umat, sebagaimana arti kata curre yang diserap dari kata Prancis. Kure merupakan sebuah dimensi baru yang diletakan pada tradisi Ume Mnasi-bukan lagi menjadi tempat menyimpan kepala manusia hasil kemenangan perang atau kepala sapi atau kerbau ataupun benda-benda keramat dan magis lainnya melainkan menjadi tempat ibadat umat  Katholik–di dalamya di tempatkan  alat-alat bantu sesuai dengan tradisi devosional agama Katholik.

Budaya Relegi Kure

Suasan pesta Paskah di Kote Noemuti  diawali dengan semaraknya penyambutan Kristus saat memasuki Yerusalem kota kelahirannya  yang dielu-elukan sebagai Raja dan Mesias Sang Juru Selamat, dirayakan umat Noemuti secara meriah saat Misa Minggu Palem atau Minggu Daun-daun. Umat berkumpul bersama di lapangan kemudian berarak menuju ke gua Maria dengan doa dan pujii-pujian  menandai awal kisah sengsara dan kebangkitan  Sang Juru Selamat  Raja Damai Yesus Kristus.

Ritual Kure yang menjadi bagian pergumulan iman umat Noemuti dalam mengenang sengsara,wafat  dan kebangkitan Yesus Kristus dalam pembaharuan iman umat, diawali dengan prosesi Trebluman pada hari Rabu satu hari sebelum hari Kamis Putih. Dilanjutkan dengan Prosesi Tanius Usi Neno dan Bua Loet pada hari Kamis pagi sebelum misa Kamis Putih. Pada malam setelah Misa Kamis Putih dan setelah misa Malam Jumat Agung  dilakukan Prosesi Kure dengan  berdoa dari satu Ume Usi Neno ke Ume Usi Neno, hingga merampungkan doa bergilir pada 24 Ume Mnasi – Ume Usi Neno yang melaksanakan tradisi Kure ini secara turun temurun.

Ritual Trebluman- Boenekaf

Pada hari Rabu, satu hari sebelum hari Kamis Putih, Warga Kote mulai memasuki masa hening, masa persiapan memasuk Tri hari dalam Pekan Suci Paskah, dengan melakukan Ritual Prosesi Trebluman pada 24 Ume Uis Neno yang melaksanakan Kure di Kote Noemuti. Pada ke 24 Ume Mnasi yang disebut sebagai Ume Usi Neno karena  ditempatkan/menempatkan benda–benda devosional sebagai kekuatan arukapeel kecil di rumah, melakukan persiapan batin, Ritual Pengosongan Diri (Trebluman). Dalam Prosesi ini, semua penghuni Ume Mnasi bersama warga sukunya, pada jam 6 sore, memadamkan lampu rumah-rumah mereka, lalu bersama mengelilingi rumahnya dengan melakukan bunyi-bunian, memukul mukul dinding rumah, sambil berseru seru….Mpoi  Riabu, Mpoi Riabu.. Tam Usi Neno….,(keluar setan  keluar setan) datanglah Tuhan datanglah Tuhan. Saat melakukan Prosesi Trebluman semua lampu di padamkan- kampong menjadi sunyi. Salah satu Amnasit di Ume Mnasi masing-masing menyebut rumpun sukunya. Ritual ini dilakukan kurang lebih   5 menit dan lonceng di bunyikan sekali setelah itu semua lampu dinyalakan kembali.

Prosesi ini hendak menggambarkan bahwa manusia dengan kekeosongan batinnya, yang dikuasai  oleh kuasa dunia, ingin dibersihkan dan dikosongkan, dan hendak meyediakan tempat khusus bagi Tuhan. Rumah dan tempat tinggal dilambangkan tubuh  diri manusia.

Ritual Pembersihan Diri  (Taniu Usi Neno)

Hari Kamis pagi, Kote Noemuti tidak boleh  di lalui,  lalu lintas  kendaraan pintu masuk ke Kote ditutup. Aktifitas dalam dan melintas Noemuti  dengan berjalan kaki. Semua kendaraan di parkir di luar Kote, menandai dilaksanakannya Ritual Taniu Uis Neno (Prosesi membersihkan benda –benda Devosional). Pagi sekitar Pukul 07.00 waktu setempat, Tetua suku dan utusan Ume-ume Usi Neno   berkumpul di “Sepe Naek” (Gereja)  dengan membawa periuk tanah  untuk ritual  pengambilan air dan batu  “Soet Oe Tait Fatu” di kali (sungai) Noemuti. Di Sepe Naek, Tetua adat didampingi para utusan Ume Usi Neno akan bertutur adat kepada Pastor memohon berkat agar prosesi Soet Oe Tait Fatu di kali (sungai) berjalan dengan lancar. Usai memperoleh berkat dari Pastor, utusan Ume Ume Uis Neno bersama Ketua Suku  akan jalan beriringan  ke kali (sungai) lewat Eno Krus di utara Gereja  mengawali proses Soet Oe Tait Fatu. Fungsi air dan batu dalam prosesi Soet Oe Tait Fatu, adalah air untuk membersihkan  atau memandikan Usi Neno/benda devosi, sementara batu berfungsi menghaluskan  tebu yang akan digunakan sebagai  pembersih dan pengawet benda–benda patung  dan benda devosi yang telah dimandikan. Dari kali (sungai) rombongan beringan kembali ke Sepe Naek  atau gereja dan air serta batu  yang akan digunakan diberkati oleh Pastor untuk memulai Prosesi Taniu Usi Neno. Dari Sepe Naek air dan batu yang sudah diberkati  dibawa ke Ume–Ume Uis Neno untuk membersihkan patung atau barang barang kudus dengan menggunakan air dan kemudian dibersihkan dengan  tebu yang sudah dihaluskan  atau  kelapa parutan (ampas kelapa) dan diolesi dengan minyak kelapa.

Dari  air yang di ambil dari kali dan telah diberkati digunakan untuk membesihkan benda benda devosional dan dibasuh ke dahi, mata,telinga,mulut,dada,tangan dan kaki semua rumpun Ume Uis Neno sebagai wujud pembersihan diri (Boe Nekaf) dari dosa pikir,dosa hati,dosa ucap dan dosa buat.Tanda pembersihan diri atau pembasuhan diri umat dalam memasuki Sengsara, Mati dan Kebangktan Kristus.

BUA LO’ET  BUA PA’- LAES MAFUTUS

Sebagai ungkapan kebersamaan (Laes Mafutus), semua anak dalam rumpun Ume Uis Neno mempersembahkan hasil usaha dan kerja kerasnya berupa buah-buahan yang akan disatukan dalam Ume Uis Neno masing-masing. Persembahan hasil pertanian ini dalam istilah adatnya disebut, Pa’ (Bua Pa”) yang artinya kewajiban yang harus dipenuhi  atau ditaati. Sebagian dari hasil usaha, kerja dan karya itu juga dipersembahkan ke Ume Uis Neno lainnya yang punya tali kekerabatan (Bua Loet).

Ritual persembahan hasil usaha dan karya berupa buah-buahan ke Ume Uis Neno yang punya tali kekerabatan disebut Bua Lo’et. Makna yang terkandung dalam ritual Bua Lo’et adalah ungkapan penyerahan diri secara total dari seluruh penghasilan umat. Kumpulan hasil pertanian ini menjadi hadiah bagi mereka yang melakukan Kure pada Ume Mnasi yang dikunjungi. Ritual ini dilakukan setelah Ritual Taniu Uis Neno.

Seusai ritual Taniu Uis Neno dimana patung-patung benda devosional telah dibersihkan, umat pada setiap Ume Uis Neno secara rapi menghiasi tempat patung atau barang-barang kudus, membuat  Sepe (Lampu dengan sumbu kapas yang di rendam pada minyak kelapa dalam tempung kelapa- saat ini diganti dengan lampu pelita), disepanjang halaman dan jalan masuk ke  tiap Ume Uis Neno menghiasi rumah dengan janur, kemudian mempersiapkan diri untuk mengikuti Misa Kamis Putih mengenangkan  Perjamuan Tuhan bersama para murid.

KURE KAMIS PUTIH

Ritual Kure atau doa bergilir dari satu Ume Uis Neno ke Ume Uis Neno dilaksanakan seusai Misa Kamis Putih. Setelah mengikuti  adorasi kepada Sakramen Maha Kudus umat secara berkelompok memulai aktifitas doanya dari satu Ume Uis Neno ke Ume Uis Neno sehingga seluruh Ume Uis Neno di Sio Noe HaenSio Noe Nakan terlayani umat.  Dalam prakteknya  peserta Kure mengawali Kure pada Ume Mnasi mana terlebih dahulu, mengakhirinya juga pada Ume Mnasi tersebut, setelah mengelilingi  dan berdoa pada semua Ume Mnasi yang ada.

Tiap-tiap kelompok doa yang datang berdoa ke Ume Mnasi mendapatkan tanda damai berupa buah-buahan. Hasil kebun dari kerja keras disiapkan sebagai tanda damai bagi peserta Kure adalah berupa tebu,sebagai pengganti senjata, jeruk dan ketimun pengganti peluru serta “Ut”-Sagu, sebagai pengganti Upaf (mesiu) senjata. Perang diganti dengan damai, maka dengan hati yang damai Umat Noemuti merayakan Pesta Paskah Kristus satu-satunya penyelamat mereka. Pelaksanaan ritual kure dilaksanakan selama dua malam yaitu pada malam Kamis Putih dan akan berakhir pada malam Jumat Agung

KURE JUMAT AGUNG 

Suasan hening dan sunyi meliputi seluruh kote Noemuti. Pada Jumat pagi  hari tidak bepergian  kemana-mana mereka hanya pergi ke gereja untuk mengikuti Jalan Salib (beberap tahun belakangan dengan TABLO) dan dilanjutkan dengan prosesi Ratapan tepat Pkl.15.00 WITA umat sudah berkumpul kembali di Sepe Naek (gereja) untuk mengikutii  Peringatan Sengsara dan Kematian Yesus Kristus, upacara ini akan berakhir kurang lebih Pkl 19.00 WITA.

Umat secara berkelompok akan melanjutkan aktifitas Kure-doanya dari satu Ume Uis Neno ke Ume Uis Neno yang belum terlayani pada malam Kure di Kamis Putih atau baru memulai Kure,hingga terlayani seluruh Ume Uis Neno di Sio Neo Nakan-Sioa Noe Haen di Kote Noemuti. Doa-doa yang dipanjatkan dalam Kure di tiap Ume Mnasi pada umumnya Devosi  Maria, Doa Bapa Kami dan Ujud Khusus dari peserta Kure.

VILIGI PASKAH-SABTU ALELUYAH

Umat Kote Noemuti melewati hari Sabtu dengan kegiatan sehari-hari namum di Kote Noemuti belum boleh ada bunyi-bunyian dan lalu lintas kendaraaan. Tidak ada aktfiitas yang berkaitan dengan Prosesi Kure. Pada Pukul 18.00 WITA umat sudah menunggu di Sepe Naek untuk mengadakan Vigili Paskah. Umat dihantar untuk mengungkapkan iman akan Yesus Kristus yang bangkit dengan mulia sebab dialah cahaya yang menghidupkan dan memberikan kegembiraan sejati. Dia telah bangkit dengan jaya dan menang atas maut.

Usai Misa Jumat Agung diadakan Bonet bersama di Sepe Naek. Bonet bersama diikuti oleh Pastor Paroki, Pengurus DPP, Amnasit dari semua Ume Uis Neno dan tokoh Umat. Kegiatan Bonet bersama ini tidak saja berhenti di Sepe Naek tetapi dilanjutkan di setiap Ume Uis Neno.

SEF MA-U

Sef Ma-u merupakan rangkaian akhir dari seluruh prosesi  Kure di Kote Noemuti. Pada setiap Ume Mnasi mulai menanggalkan segala atribut atau hiasan-hiasan seperti kembang dan janur, buah- buahan  ampas tebu, sisa air dan minyak yang dipakai untuk membersihkan benda-benda benda devosional  untuk dilarungkan atau dihanyutkan ke kali Neomuti.

Prosesi Sef Ma-u diawali dengan  beraraknya masing masing utusan dari Ume Uis Neno menuju Sepe Naek (Gereja) dengan membawa Kabi Buset, dipersembahkan ke Gereja dalam Misa Minggu Paskah. Seusai Misa Minggu Paskah utusan Ume Mnasi membawa  segala  atribut atau hiasan-hiasan seperti kembang dan janur, buah- buahan ampas tebu, sisa air dan  minyak yang dipakai untuk membersihkan benda-benda benda devosional berkumpul di Ume Salem, menuju ke Gereja untuk Tetua Adat menyampaikan Tutur telah dilaluinya Kure dan akan dilakukan Ritual Sef Mau sebagai simbol telah ditebus oleh Kristus dan menjadi Manusia Baru.

Dari Sepe Naek, berarak menuju ke Kali Noemuti melalui Eno Naek Noe Pala. Di kali Noemuti kembali dilakukan tutur adat dan sisa sisa dari prosesi Kure dilarungkan/dihanyutkan ke Kali Noemuti  sebagai tanda melepaskan  semua noda dan dosa  karena telah diselamatkan Kritus melalui kebangkitan-Nya  dan mengenakan Manusia Baru.

Mengakhi ritual Sef Ma-u  utusan masing masing Ume Uis Neno membasuh tangan dan muka dengan air  sebagai tanda kemenangan. Bala telah ditanggalkan dan kembali mendapatkan kesejukan kedamaian (Manikin Oetene). *. Victor Manbait (Penulis Taklale.Com)