Taklale.Com,-Untuk dapat menuju ke wilayah Mutis, pengunjung harus keluar dari Bijae Le Nakan, kembali ke Kota SoE. Lokasi pertama yang akan ditemui dalam rute SoE ke Mutis adalah lokasi pemandian yang disebut para pengunjung lokal dalam bahasa Melayu Kupang sebagai Batu Tagepe. Batu Tagepe artinya Batu yang terjepit. Disebut demikian karena aliran sungai ini melewati sebuah jalur dimana bebatuan di sisi-sisi sungai seakan terjepit satu sama lain. Nama sebenarnya yang diberikan penduduk setempat untuk tempat ini adalah Ika Poik yang artinya tempat keluarnya ikan.

Lokasi Ika Poik ini sebenarnya merupakan bagian dari sungai yang mengalir dari sumber air terjun Oehala. Lokasi Ika Poik yang terletak di Desa Noinbila, Kecamatan Mollo Selatan ini dibuka untuk umum pertama kali pada tahun 2015. Sungai ini sebenarnya merupakan batas alam antara Desa Noinbila dan Desa Oel Ekam di Kecamatan Mollo Tengah.

Ika Poik dapat diakses melalui persimpangan sebelum gedung SMAN 2 SoE, di sekitar kilometer 6 menuju Kota kecil Kapan. Selanjutnya perjalanan dari persimpangan tersebut menuju ke lokasi dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10-15 menit.

Di lokasi ini belum terdapat fasilitas yang memadai untuk sebuah tempat pemandian publik selain sebuah area parkir dan sebuah bilik darurat untuk berganti pakaian. Lokasi Ika Poik berada di tanah milik warga setempat namun menurut rencana akan dikelola oleh pemerintah desa setempat.

Air Terjun Oehala

Lokasi selanjutnya yang dapat anda kunjungi adalah air terjun Oehala yang hanya berjarak kurang lebih dua kilometer dari Ika Poik. Pengujung harus kembali ke ruas jalan SoE-Kapan agar dapat menuju ke Oehala. Oehala adalah air terjun bertingkat tujuh yang terletak kurang lebih 8 km arah utara kota SoE. Air terjun yang bermuara di Samudra Indonesia ini memiliki debit air yang cukup besar sehingga pernah dijadikan pembangkit listrik tenaga Air yang melayani 154 rumah di desa Oel Ekam. Walau debit airnya besar, kedalaman kolam airnya alaminya tidak terlalu dalam sehingga pengunjung dapat menikmati setiap tingkatan

kolam dengan sekedar berfoto, berenang ataupun bermain air. Dikelilingi oleh pepohonan hijau yang menjulang membuat suasana di kawasan air terjun ini sejuk.

Perjalanan dari Kota SoE ke Air terjun Oehala dapat ditempuh dalam waktu sekitar 25-30 menit. Pengunjung perlu menyewa kendaraan atau menggunakan ojek karena angkutan umum tidak masuk ke Oehala. Kondisi jalan di sepanjang jalan menuju kawasan Oehala beraspal mulus, hanya beberapa titik aspal yang terlihat berlubang namun tidak terlalu menghambat perjalanan.

Sesampainya di area parkir lokasi wisata, pengunjung akan disuguhi jajaran warung kecil yang menjajakan berbagai makanan dan minuman ringan. Dengan biaya masuk per-orang dewasa sebesar Rp. 3.000 dan anak-anak sebesar Rp. 1.000 saja, pengunjung sudah dapat menikmati pesona Air Terjun Oehala.

Selanjutnya untuk menuju spot utama Air Terjun Oehala, anda butuh sedikit tenaga ekstra dan kehati-hatian karena terdapat 132 anak tangga berkelok-kelok yang harus dituruni. Kurang lebih 10 menit berjalan kaki lamanya menuruni anakan tangga, pengunjung akan disambut oleh pesona indahnya air terjun 7 bertingkat ini.

Sayangnya fasilitas yang terdapat di kawasan ini terihat kurang terawat dan terjaga. Hanya terdapat beberapa lopo, beberapa toilet dan ruang ganti seadanya saja. Meskipun demikian, keindahan lanskap Air Terjun Oehala ini berhasil menutupi segala kekurangannya dan membuat para pengunjungnya betah berlama-lama menikmati segarnya aliran airnya. Pengunjung ke air terjun Oehala kebanyakan adalah pengujung lokal dan jumlah pengunjung cenderung menurun dalam waktu tiga tahun terakhir. Di tahun 2016 tercatat 10.650 orang mengunjungi Oehala. Jumlah ini mengalami sedikit penurunan di 2017 yaitu sebesar 10.508 orang. Namun di tahun 2018 jumlah ini mengalami penurunan drastis menjadi hanya 2.300 orang yang berkunjung. Data Dinas Pariwisata TTS menunjukkan bahwa tidak ada kunjungan wisatawan mancanegara ke Oehala dalam waktu 2017-2019. Entahlah apa yang terjadi setelah pandemi. Begitulah riwayatmu kini Oehala … (Bersambung)

Penulis : Mateos Viktor Messakh

tulisan juga dimuat pada laman facebook penulis tanggal 1 Juli 2021)

Foto : laman facebook Matheos Viktor Messakh