Minggu, Desember 4, 2022

Enam Tokoh sebagai Tipologi Hubungan Adventus dan Natal

Wajib dibaca

Pdt. Ebenhaizer Nuban Timo
(Edisi ke-5)

Kalau umumnya Jemaat Kristen masa kini mendebatkan pencampuradukkan perenungan Adventus dan Natal, Perjanjian Baru justru menampilkan kolaborasi pewartaan Adventus dan Natal. Jelasnya dalam kitab-kitab Injil, pewartaan Adventus dikaitkan erat dengan penggenapannya pada saat kelahiran Yesus. Sebaliknya kelahiran Yesus dipakai sebagai latar belakang untuk mengartikulasilan pentingnya pemberitaan Adventus.

Kolaborasi apik dan atraktif itu kita deteksi dalam kehadiran tiga pasang tokoh yang muncul di pentas masa penantian (Adventus) dan masa penggenapan nubuat (kelahiran Yesus). Tokoh-tokoh itu adalah: Zakaria dan Yusuf, Elizabeth dan Maria, Yohanes Pembaptis dan Yesus. Menariknya, keenam tokoh itu ditampilkan berpasang-pasangan. Narasi tentang iman mereka diatur begitu rupa sehingga nampak adanya keberlanjutan.

Dua tokoh pertama adalah Zakaria dan Yusuf. Yang pertama mewakili umat yang menanti. Yang kedua merepresentasi umat yang hidup dalam momen pemenuhan. Tapi tokoh deskripsi karakter mereka sama. Zakaria dan Yusuf digambarkan sebagai tokoh yang suka menahan diri, tidak mau merebut perhatian publik bagi diri sendiri. Keduanya pasrah menerima keputusan Allah dan menjalankan keptusan itu dengan setia walaupun terkesan menyakitkan dan pahit.

Baca Juga  Kelahiran Raja Damai, Harapan di Tengah Kesesakan

Bayangkan, Zakaria harus menjalani masa 9 bulan 10 hari sebagai orang bisu karena ragu-ragu kalau Elisabeth sang istri bisa melahirkan padahal sudah memasuki usia monopause. Tentulah sebuah masa penuh perenungan diri dan pertobatan bagi Zakaria.

Hati Yusuf juga tak kalah bergejolak. Betapa tidak. Ia diminta Malaikat untuk mengambil Maria sebagai istri, padahal Maria hamil sebelum mereka hidup sebagai suami-istri. Yusuf ini harus pula melakukan tiga kali perjalanan melelahkan. Pertama dari Nazaret ke Betlehem (versi Lukas). Kedua dari Betlehem ke Mesir. Ketiga dari Mesir ke Nazaret. Kalau Yusuf lakukan perjalanan itu seorang diri, tentu saja menyenangkan. Itu seperti jalan-jalan piknik. Masalahnya Yusuf harus membawa Maria dan bayi Yesus. Ini namanya tamasya yang nekat. Bukan hanya perjalannya yang berat. Ambil dari mana biaya hidup untuk mengurus Maria dan bayinya. Seorang tukang kayu seperti Yusuf tentulah tidak punya tabungan untuk biaya perjalanan itu. Tidak adanya kamar kosong di rumah penginapan Betlehem adalah satu indikasi, Yusuf tidak punya cukup uang untum membayar uang muka penginapan.

Baca Juga  Elisabet dan Maria : Tipologi Hubungan Adventus dan Natal

Zakaria sebagai wakil umat Adventus dan Yusuf sebagai representasi umat yang hidup di moment Natal memang tidak pernah bertemu. Hikayat mereka dinarasikan terpisah. Ini bisa kita pakai untuk melegitimasi kegigihan kelompok orang yang menghendaki kekhusukan masa raya Adventus harus dikawal ketat agar tidak diserobot maknanya oleh gebyar perayaan Natal.

Bisa begitu. Tetapi tunggu. Jangan cepat bertepuk tangan atau menaikan tangan untuk protes. Masih ada dua episode yang harus disimak dari hikayat kitab-kitab Injil tentang Adventus dan Natal (bersambung di edisi ke-6).

Sumber : Facebook Eben Nuban Timo II tanggal 09 Desember 2021

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Hukum, HAM & Politik

SAIFUL MUJANI: UMUMNYA PEMILIH HANYA MENGINGAT NAMA TOKOH PARTAI

Siaran Pers 2 SAIFUL MUJANI RESEARCH AND CONSULTING (SMRC) Jakarta, 24 November 2022 Umumnya pemilih Indonesia hanya mengingat nama atau pemimpin dan...

Berita yang mungkin kamu suka